TERNYATA NASKH DALAM AL-QUR’AN TIDAK ADA ; Studi Al-Qur’an

Oleh Abdul Basid

Dipresentasikan di Seminar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

BAB

PENDAHULUAN

Al-Qur’a>n bukanlah kitab vacum history yang hanya rekayasa belaka, melainkan kitab suci yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi petunjuk serta mencipta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Oleh karenanya, dalam berupaya memahami isi kandungan al-Qur’a>n sebagai suatu petunjuk dan rahmat tersebut, sangat dibutuhkan seperangkat khazanah keilmuan yang mendukung untuk menemukan validitas sebuah tuntunan dibalik ayat-ayat suci

Ditinjau dari sisi kemampuan manusia yang berfarian dalam menanggapi ayat-ayat al-Qur’a>n, memungkinan adanya keragaman interpretasi yang membutuhkan ketekunan pengkajian dan keilmuan yang bisa mendukung penelusuran lebih jauh dalam memahami ayat-ayat suci.

            Al-Qur’a>n mengandung beberapa bagian ayat yang nampaknya kontradiksi dengan ayat lain, sehingga tanpa ada pengetahuan yang memadai tidak menutup kemungkinan seseorang akan keliru memahami ayat-ayat tersebut. Apabila terjadi kekeliruan seperti itu, sudah bisa dipastikan akan menorehkan nilai negatif  terhadap al-Qur’a>n. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam ‘Ulu>m al-Qur’a>n salah satunya dikenal dengan na>sikh dan mansu>kh yang secara spesifik membahas bagaimana mengkompromikan ayat-ayat al-Qur’a>n yang nampak bertentangan. Na>sikh dan mansu>kh terjadi karena al-Qur’a>n    diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yang mengiringinya. Oleh karena itu, untuk mengetahui al-Qur’a>n dengan baik harus mengetahui ilmu na>sikh dan mansu>kh.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.  Pengertian Nasakh

Memahami nasakh tidak bisa terlepas dari dua sudut pandang uraian bahasan, yaitu dari sisi etimologi dan terminologi. Sebelum masuk ke dalam ranah bahasan yang lebih dalam, hendaknya dipahami bahwa nasakh jika di tilik dari sisi kata mengakar pada dua kata, yaitu na>sikh dan mansu>kh.

Na>sikh secara etimologi memiliki arti sebagaimana berikut:

  1. Menghilangkan :[1]

الرفع و الإزالة , يقال : نسخت الشمس الظل. ومنه قوله تعالى (فينسخ الله ما يلقى الشيطان)

Matahari menghilangkan jejak perjalanan

  1. Memindahkan

نسخت الكتا ب. ومنه قوله تعالى (  إ نا كنا نستنسخ ما كنتم تعملون )

Saya memindahkan ( menyalin ) apa yang ada dalam buku

Dari segi Istilah, kata na>sikh berarti mengangkat, menghapus hukum syara’ dengan dalil hukum syara’ yang lain. Na>sikh juga dipakai dalam beberapa arti antara lain pembatalan, penghapusan, pemindahan dari satu sisi ke sisi lain ataupun pengubahan dan sebagainya.

Sedangkan mansu>kh dari sisi etimologi adalah sesuatu yang diangkat, dibatalkan, dipindahkan dan dihapus, inilah sekedar pemabacaan dasar. Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda pendapat, sebagaimana ulama mutaqaddimi>n memperluas arti nasakh, sehingga mencakup :

  1. Membatalkan hukum yang ditetapkan terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian.
  2. Pengecualian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang bersifat khusus yang datang kemudian.
  3. Penetapan syarat terhadap hukum yang terdahulu yang belum bersyarat.
  4. Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang bersifat samar

Ada diantara para ulama yang beranggapan bahwa suatu ketetapan hukum yang ditetapkan oleh kondisi tertentu telah menjadi mansu>kh apabila ada ketentuan lain.[2] Sebagaimana ada yang beranggapan bahwa ketetapan hukum Islam yang membatalkan hukum yang berlaku pada masa pra-Islam merupakan bagian dari pengertian naskh.

Sedangkan ulama muta’akhiri>n mempersempit pengertian mansu>kh, menurut mereka mansu>kh terbatas pada ketentuan hukum yang datang kemudian, guna membatalkan, mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan hukum yang berlaku adalah yang ditetapkan terakhir.

  Namu apabila di pahami lagi secara terminologi, sebagaiman pemahaman Quraish Shiha>b; nasakh ialah pergantian atau pemindahan dari satu wadah ke wadah yang lain . Dalam arti bahwa kesemua ayat al-Qur’a>n tetap berlaku, tidak ada kontradiksi. Yang ada hanya pergantian hukum bagi masyarakat atau orang tertentu, karena kondisi yang berbeda. Dengan demikian ayat hukum yang tidak berlaku lagi baginya, tetap dapat berlaku bagi orang-orang lain yang kondisinya sama dengan kondisi mereka semula. Pemahaman semacam ini akan sangat membantu dakwah Islamiyah, sehingga ayat-ayat hukum yang bertahap tetap dapat di jalankan oleh mereka yang kondisinya sama atau mirip dengan kondisi umat Islam pada awal masa Islam.[3]

  1. B.   Teori Dan Konsep Nasakh

Naskh pada dasarnya menggunakan logika kronologi dan wahyu progresif. The different situations encountered over the course of Muhammad ‘s more than two decade term as prophet, it is argued, required new rulings to meet the Muslim community’s changing circumstances. Situasi tersebut digunakan sebagai koneksi respek sebuah teks suci terhadap perubahan iklim sosial yang dinamis. Perlu diketahui bahwaNaskh applies to only the regulative parts of God’s revelation. naskh hanya berlaku untuk bagian-bagian regulatif dari wahyu Ilahi.

Al-Maraghi> dalam hal ini menjelaskan, bahwa hukum-hukum tidak dilegalkan kecuali untuk kemaslahatan manusia dan perubahan atau perbedaan tersebut terjadi akibat waktu dan tempat yang berbeda, sehingga apabila ada satu hukum yang dilegalkan pada suatu waktu karena adannya kebutuhan yang mendesak saat itu juga kebutuhan tersebut berakhir, maka merupakan suatu tindakan bijaksana apabila di nasakh dan disesuaikan dengan hukum yang senada dengan waktu, hal itu menjadi lebih baik dari hukum semula atau sama dari segi manfaatnya untuk hamba Allah.[4] Ibn Katsir juga berpendapat, bahwa Tidak ada alasan yang menunjukkan kemustahilan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah, kebijakan-Nya menetapkan segala sesuatu pasti ada bias hikmah. Terdapat beberapa cara untuk mengetahui nasakh sebagai berikut:

  1. Keterangan tegas dari nabi atau sahabat, seperti hadis yang berbunyi :

كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد فى زيارة قبر أمه فزوروها فإنها تدكر الاخرة

Aku (dulu) pernah melarangmu berziarah ke kubur, sekarang Muhammad telah mendapat izin untuk menziarahi ke kubur ibunya, kini berziarahlah kamu ke kubur. Sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan pada hari akhir.

  1. Kesepakatan ulama bahwa ayat ini na>sikh dan ayat itu mansu>kh
  2. Mengetahui yang mana yang lebih dahulu dan kemudian turunnya dalam perspektif sejarah.

Ketiga hal tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan adanya na>sikh dan mansu>kh dalam Al-Qur’a>n. Na>sikh dan mansu>kh hanya terjadi pada lapangan hukum saja.[5] Akan tetapi faktor-faktor tersebut akan menjadi lebih sempurna untuk memberikan pemahaman tentang na>sikh dan mansu>kh, jika syarat-syaratnya juga difahami.

  1. C.   Syarat-syarat Nasakh

Dalam menetapkan suatu ayat apakah naskh atau bukan ada ketentuan tersendiri yaitu bahwa naskh hanya terjadi pada perintah dan larangan, baik yang diungkapkan dengan tegas dan jelas maupun yang diungkapkan dengan kalimat berita yang bermakna perintah atau larangan. Adapun syarat-syarat naskh adalah :

  1. Hukum yang mansu>kh adalah hukum syara’
  2. Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khit}a>b syar’i yang datang lebih kemudian dari khitab yang hukumnya mansukh.
  3. Khit}a>b yang mansu>kh hukumnya tidak terikat dengan waktu tertentu.[6]

Muhammad Abu Zahrah juga memberikan komentar terhadap syarat-syarat naskh, sebagaimana berikut:

  1. Hukum yang di-nasakh-kan tidak dioperasikan secara abadi
  2. Hukum yang di-nasakh-kan bukan suatu hukum yang disepakati oleh akal sehat tentang baik atau buruknya. Semisal kejujuran, aniaya dan lain-lain
  3. Harusnya ayat nasikha>t  datang kemudian daripada ayat mansu>kha>t
  4. Keadaan kedua nash tersebut saling bertentangan dan tidak dapat dikompromikan satu sama lain.

Abdul Wahhab Khallaf menambahkan satu syarat dari empat syarat yang dikemukakan oleh Abu Zahrah, bahwa nash sebagai nasi>kh harus lebih kuat atau setidaknya sama kuatnya. Misalnya al-Qur’a>n dengan al-Qur’a>n atau al-Qur’a>n dengan hadis mutawatir (sama-sama bersifat qat}’i>).[7] Sebagian berpendapat bahwa al-Qur’a>n tidak dapat di-nasakh-kan kecuali dengan al-Qur’a>n, sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Baqarah.106.

  1. D.  Pembagian, Bentuk Dan Jenis Naskh dalam Al-Qur’a>n

Berdasarkan kejelasan dan cakupannya, nasikh dalam al-Qur’a>n    terbagi empat macam yaitu:[8]

1. Nasakh s}a>rih}, ialah naskh yang jelas tentang berakhirnya atau berubahnya suatu hukum. Misalnya tentang perubahan qiblat shalat, dimana pada awalnya menghadap ke baital maqdis dan pada akhirnya diubah menghadap ke Ka’bah. (QS. 2:150).

2. Nasakh D{imni> (implisit), yaitu jika terdapat dua teks yang saling bertentangan dan tidak dapat dikompromikan. Keduanya turun untuk sebuah masalah yang sama, dan diketahui bahwa turunnya tidak sekaligus pada waktu tertentu, maka ayat yang datang kemudian mengganti ayat yang terdahulu. Mislanya QS: 2:234 tentang iddah isteri yang ditinggal mati oleh suaminya, yakni empat bulan sepuluh hari, ayat tersebut menaskh QS: 2:240 tentang wasiat suami terhadap isteri, bahwa ia tidak boleh keluar rumah selama satu tahun.

3. Nasakh Kulli>, yaitu penggantian atau pembatalan terhadap teks hukum syara’ yang datang sebelumnya secara keseluruhan. Misalnya pembatalan wajibnya wasiat kepada kedua orang tua dan kerabat (QS: 2:180) oleh ayat mawa>rith (QS: 4:11-14).

4. Nasakh Juz’i>, yaitu penggantian atau pembatalan sebagian hukum syara’ yang umum yang berlaku bagi semua individu dengan hukum yang hanya berlaku bagi sebagian individu . Contoh hukum delapan puluh kali bagi orang yang menuduh seorang wanita tanpa adanya saksi.

و الذين يرمون المحصنت ثم لم يأتوا بأربعة شهداء فاجلدوهم ثمنين ولا تقبلوا لهم شهادة أبدا وأولئك هم الفاسقون.[9]

…Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang menuduh itu delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka  buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik..

Ketentuan ini diganti dengan ketentuan li’an yaitu bersumpah empat kali dengan nama Allah bagi si penuduh. Akan tetapi bentuk-bentuk contoh ini kalau ditelaah lebih mendalam bukanlah nasakh dalam arti yang sebenarnya, namun lebih cenderung terhadap bentuk takhs}i>s} atau taqy>id. Sebagaimana bentuknya:

و الذين يرمون أزواجهم و لم يكن لهم  شهداء الا انفسهم فشهادة أحدهم أربع شهادت بالله إنه لمن الصد قين.[10]

 Dan orang yang menuduh istrinya berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dilihat dari segi bacaan dan hukumnya, mayoritas ulama membagi naskh kepada tiga macam, yaitu :[11]

  1. Naskh terhadap hukum dan bacaan secara bersamaan. Ayat-ayat yang tergolong kategori ini tidak dibenarkan dibaca dan tidak dibenarkan diamalkan. Misalnya, riwayat al-Bukha>ri> dan Muslim, yaitu hadis ‘A<’ishah r.a yang mengatakan :

((كان فيما أنزل عشر رضعات معلومات يحرمن فنسخن بخمس معلومات)). فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم ((وهن مما يقرأ من  القرآن)).

Sebagaimana yang diturunkan (ayat al-Qur’a>n) kepadanya adalah sepuluh rad}a’a>t (isapan menyusui) yang diketahui, kemudian di nasakh dengan lima (isapan menyusui) yang diketahui. Maka ketika Rasulullah wafat lima susuan ini termasuk sebagian dari al-Qur’a>n yang dibaca.

2.   Nasakh terhadap hukumnya saja, sedangkan bacaannya tetap ada. semisal ajakan para penyembah berhala dari kalangan musyrik pada umat Islam untuk saling bergantian dalam beribadah telah dihapus oleh ketentuan ayat qita>l. Akan tetapi bunyi teksnya masih dapat kita temukan dalam surat al-Ka>firu>n:6, sebagaimana berikut :

لكم دينكم و لي دين[12]

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku

3.   Nasakh terhadap bacaannya saja, sedangkan hukumnya tetap berlaku

Adapun dari sisi otoritas yang lebih berhak menghapus sebuah nas}, para ulama membagi nasakh ke dalam empat macam yaitu :

a)      Nasakh al-Qur’a>n dengan al-Qur’a>n. Nasakh seperti ini ulama sepakat akan kebolehannya.

b)      Nasakh al-Qur’a>n dengan al-Sunnah. Bagi kalangan ulama Hanafiyah, nasakh semacam ini diperbolehkan bila sunnah yang menghapusnya berkedudukan mutawa>tir atau mashhu>r.

c)      Nasakh al-Sunnah dengan al-Qur’a>n. Menurut ahli us}u>l, nasakh semacam ini betul-betul terjadi seperti penghapusan kiblat shalat dari Bait Muqaddas ke Ka’bah.

d)      Nasakh al-Sunnah dengan al-Sunnah. Bagi al-Qat}t}a>n pada dasarnya ketentuan nasakh dalam ijma’ dan qiyas itu tidak ada dan tidak diperkenankan.[13]

  1. E.   Pendapat Para Ulama Dan Tahapan Dalam al-Qur’a>n Tentang Adanya Ayat-ayat Nasakh

Ulama berbeda pendapat tentang adanya nasakh dalam al-Qur’a>n. Mereka yang menolak adanya naskh dalam al-Qur’a>n beranggapan, bahwa pembatalan hukum dari Allah mengakibatkan satu dari dua kemustahilan-Nya, yaitu :

  1. Ketidaktahuan, sehingga Allah perlu mengganti atau membatalkan satu hukum dengan hukum yang lain.
  2. Kesia-siaan dan permainan teks belaka dalam masalah naskh untuk menentukan suatu hukum.

Para ulama dalam menanggapi hal tersebut terbagi atas empat golongan :[14]

  1. Orang Yahudi. Mareka tidak mengakui adanya nasakh, karena menurut mereka naskh mengandung konsep al-bada>’, yakni kelihatan setelah tidak tampak (tidak jelas) dan hal ini mustahil bagi Tuhan.
  2. Orang Shi>’ah Rafidah, Mereka terlalu over dalam menetapkan naskh dan memberikan pemahaman terlalu luas tanpa ada batasan. Bahan rujukan dari argumentasi mereka adalah ungkapan yang dinisbahkan kepada ‘Ali> r.a secara dusta dan palsu.[15] Mereka juga berpegang pada firman Allah Q.S al-Ra’d, ayat 39, yakni :

يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتب

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan sisi-Nya-lah terdapat ummu al-kitab (lawh mahfu>z}).[16]

  1. Abu> Muslim al-As}fahani>, Secara logika beliau menerima nasakh tetapi dalam syara’ tidak. Dikatakan pula bahwa ia menolak sepenuhnya terjadi naskh dalam al-Qur’a>n  berdasarkan firman-Nya dalam Q.S Fus}s}ila>t ayat 42, yakni:

لايأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد

Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’a>n>) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.[17]

  1. Jumhur ulama. Mereka berpendapat, naskh adalah suatu hal yang dapat diterima akal dan telah terjadi dalam hukum-hukum syara’.

Di antara tokoh yang menolak adanya nasakh adalah ‘Ali> bin Husain bin Muh}ammad yang dikenal dengan nama Ibnu Farj al-As}fahani yang menegaskan bahwa al-Qur’a>n tidak sedikitpun tersentuh oleh pembatalan, jika naskh itu diartikan dengan pembatalan maka jelas tidak ada dalam al-Qur’a>n. Adapun dalil-dalil yang dijadikan bahan rujukan dalam al-Qur’a>n diperlukan adanya reinterpretasi, sebab didalamnya terkandung berbagai konotasi dan dalil-dalil tersebut bisa saja dita’wil sesuai konteks ayat-ayat sesudah dan sebelumnya.[18]

Sedangkan Muh}ammad Abdu>h sedikit berbeda dalam memahami naskh, yaitu dengan memberikan pemahaman tabdi>l (penggantian) dan tah}wi>l (mengubah) serta al-Naql (memindahkan). Hal ini sesuai dengan pengertian naskh secara etimologi. Atas dasar inilah al-Asfahani lebih suka menyebut naskh dengan istilah takhs}i>s} (pengkhususan) meskipun ulama pendukung naskh tidak menyetujuinya.

Eksistensi kekuasaan Allah dalam konsistensi-Nya untuk menetapkan suatu hukum yang tidak mungkin berubah sangatlah jelas dalam beberapa surat yang tertuang dalam beberapa ayat, yakni:[19]

-          Al-Nah}l:101

-          Qa>f: 29

-          Al-Nah}l: 102

-          Al-Nah}l: 103.

Dalil-dalil ini sangatlah sesuai dengan pemikiran al-As}fahani seandainya memang di