ABSTRAKSI

 

Ilmu pengetahuan yang dipahami dalam arti pendek sebagai pengetahuan objektif, tersusun, dan teratur. Ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari agama. ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan. Ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai pencarian kepastian, melainkan sebagai penyeledikan yang berkesinambungan.

Di dalam doktrin agama, terdapat beberapa landasan yang menunjukan, bahwa—di samping—ada kebenaran yang muthlak yang langsung dari Allah swt. diakui pula eksistensi kebenaran relatif yang merupakan hasil usaha pencapaian budaya manusia[1], seperti: kebenaran spekulatif filsafat dan kebenaran positif ilmu pengetahuan serta kebenaran pengetahuan biasa di dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata kunci: Ilmu Pengetahuan, Agama 

 

 

 

 

 

 

AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

Ilmu Pengetahuan dan Agama adalah dua entitas yang menduduki posisi penting dalam filsafat ilmu. Keduanya merupakan objek yang menarik untuk diperbincangkan. Posisi kedua cabang disiplin ilmu tersebut saling memberikan nilai positif dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan dan kemanusiaan. Hal itu disebabkan oleh fitrah manusia sebagai mahluk berfikir yang selalu menghendaki rasionalitas. Manusia juga mengalami dan menyaksikan problema-problema yang terkait dengan dimensi-dimensi misteri dalam kehidupan yang tidak dapat dipecahkan kecuali dengan merujuk pada agama, sehingga eksistensi agama—yang selain—sebagai sistem kepercayaan yang mengharuskan adanya kebenaran, juga sebagai tindakan praktis terhadap aplikasi kepercayaan (iman) yang telah diakui kebenaraanya melalui metodologi ilmu pengetahuan yang telah disepakati kebenarannya.

Karya ilmiah ini, fokus kajiannya tentang ilmu pengetahuan, agama serta hubungan ilmu pengetahuan dan agama. Dalam penulisan karya ilmiah, penulis sadar bahwa karya ilmiah ini jauh dari kesempurnaan sehingga membutuhkan saran yang membangun demi terciptanya kebenaran yang seutuhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Ilmu Pengetahuan

 

Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem pengetahuan dari berbagai pengetahuan, mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan atau sistem dari berbagai pengetahuan. James menjelaskan, ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan.[2] Ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai pencarian kepastian, melainkan sebagai penyeledikan yang berkesinambungan.

Ilmu pengetahuan juga bisa merupakan upaya menyingkap realitas secara tepat dengan merumuskan objek material dan objek formal.Upaya penyingkapan realitas dengan memakai dua perumusan tersebut adakalanya menggunakan rasio dan empiris atau mensintesikan keduanya sebagai ukuran sebuah kebenaran (kebenaran ilmiah). Penyingkapan ilmu pengetahuan ini telah banyak mengungkap rahasia alam semesta dan mengeksploitasinya untuk kepentingan manusia.

Dewasa ini, ilmu pengetahuan yang bercorak empiristik dengan metode kuantitatif (matematis) lebih dominan menduduki dialektika kehidupan masyarakat. Hal ini besar kemungkinan karena banyak dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran positivistiknya Auguste Comte yang mengajukan tiga tahapan pembebasan ilmu pengetahuan.[3] Pertama, menurut Auguste Comte ilmu pengetahuan harus terlepas dari lingkungan teologik yang bersifat mistis. Kedua, ilmu pengetahuan harus bebas dari lingkungan metafisik yang bersifat abstrak. Ketiga, ilmu pengetahuan harus menemukan otonominya sendiri dalam lingkungan positifistik.

  1. a.     Bentuk Ilmu Pengetahuan

Menurut beberapa pakar, ilmu pengetahuan didefinisikan sebagai rangkaian aktifitas berfikir dan memahami dengan mengikuti prosedur sistematika metode dan memenuhi langkah-langkahnya.[4] Dengan pola tersebut maka akan dihasilkan sebuah pengetahuan yang sistematis mengenai fenomena tertentu, dan mencapai kebenaran, pemahaman serta bisa memberikan penjelasan serta melakukan penerapan.

Secara garis besar, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua bentuk, yakni ilmu eksakta dan ilmu humaniora. Ilmu eksakta adalah spesifikasi keilmuan yang menitikberatkan pada hukum sebab akibat. Penilaian terhadap ilmu-ilmu eksakta cenderung memakai metode observasi yang digunakan sebagai cara penelitiannya dan mengukur tingkat validitasnya. Dengan model tersebut, penelitian terhadap ilmu-ilmu eksakta sering mendapatkan hasil yang objektif. Sedangkan ilmu humaniora merupakan spesifikasi keilmuan yang membahas sisi kemanusian selain yang bersangkutan dengan biologis maupun fisiologisnya. Hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan ini lebih tertitik tekan dalam masalah sosiologis dan psikologisnya.

Menurut Jujun, cabang atau bentuk ilmu pada dasarnya berkembang dari cabang utama, yakni filsafat alam yang kemudian berafiliasi di dalamnya ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang menjadi menjadi cabang ilmu-ilmu social (the social sciences).[5] Dari kedua cabang tersebut, klasifikasi keilmuan menjadi kian tak terbatas. Diperkirakan sampai sekarang ini, terdapat sekitar 650 cabang keilmuan yang masih belum banyak dikenal.[6] Kepesatan kemajuan perkembangan ilmu ini demikian cepat, hingga tidak menutup kemungkinan sepuluh tahun ke depan, klasifikasi keilmuan bisa mencapai ribuan jumlahnya.

Sekian banyak jumlah cabang keilmuan tersebut, bermula dari ilmu alam yang membagi diri menjadi dua kelompok, yakni ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hidup (hayat/the biological sciences).[7] Ilmu alam ini bertujuan untuk mempelajari zat yang membentuk alam semesta. Ilmu ini kemudian membentuk rumpun keilmuan yang lebih spesifik, misalnya sebagai ilmu fisika yang mempelajari tentang massa dan energi, ilmu kimia yang membahas tentang substansi zat, ilmu astronomi yang berusaha memahami kondisi benda-benda langit dan ilmu-ilmu lainnya. Dari rumpun keilmuan ini kemudian membentuk ranting-ranting baru, seperti kalau dalam fisika ada yang namanya mekanik, hidrodinamika, bunyi dan seterusnya yang masih banyak lagi ranting-ranting kecil.

Disiplin keilmuan tersebut di atas terlahir dari beberapa sumber. Ilmu pengetahuan yang terlahir dari sumber yang berdampak pada perbedaan dari masing-masing jenis keilmuan. Meskipun demikian tidak semua orang mempercayai dan mengakui keilmuan seseorang yang kebetulan muncul dari sumber yang tidak diyakini oleh kebanyakan masyarakat. Misalnya ilmu ladunniy yang diyakini adanya di kawasan Timur namun tidak dipercaya di daerah Barat.

Dalam buku Filsafat Ilmu karya Amsal Bakhtiar dikatakan bahwa ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan keluar dari empat hal.[8] Pertama adalah Empirisme, menurut aliran ini seseorang bisa memperoleh pengetahuan dengan pengalaman inderawinya. Dengan indera manusia bisa menghubungkan hal-hal yang bersifat fisik ke medan intensional, atau menghubungkan manusia dengan sesuatu yang kongkret-material. Kedua adalah Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal merupakan satu-satunya sumber kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang diakui benar semata-mata hanya diukur dengan rasio.

Ketiga adalah intuisi. Menurut Henry Bergson yang dikutip oleh Bakhtiar, intuisi adalah hasil evolusi dari pemahaman yang tertinggi. Intuisi ini bisa dikatakan hampir sama dengan insting, namun berbeda dalam tingkat kesadaran dan kebebasannya. Untuk menumbuhkan kemampuan ini, diperlukan usaha dan kontinuitas latihan-latihan. Ia juga menambahkan bahwa intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang meliputi harus adanya analisis, menyeluruh, mutlak dan lain sebagainya. Karena itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Keempat adalah wahyu, sumber ini hanya khusus diperoleh melalui para Nabi yang menerima pengetahuan langsung dari Tuhan semesta alam. Para Nabi memperoleh pengetahuan tanpa upaya dan tanpa memerlukan waktu tertentu. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan.

Jika sumber pengetahuan tersebut dihubungkan dengan struktur realitas (objek) dan struktur keilmuan, maka pengklasifikasiaanya sebagaimana dalam tabel berikut:[9]

Tabel 2.1. Sumber Ilmu pengetahuan

Sumber Ilmu

Struktur Realitas (objek)

Struktur Keilmuan

Intuisi, rasio, indera, wahyu

Transenden

Ilmu Agama (kitab suci)

Rasio, indera, intuisi

Manusia

Ilmu filsafat

Rasio, indera, intuisi

Masyarakat

Ilmu sosial, budaya, ekonomi, politik dsb

Rasio, indera, intuisi

Sebab-akibat, proses

Ilmu fisika, kimia dsb

Intuisi

Pertahanan hidup

Ilmu kelangsungan hidup

Indera

Fisiko-kemis

Pengetahuan sederhana

 

Jika melihat klasifikasi yang terdapat dalam tabel di atas, maka untuk sementara bisa diambil kesimpulan sementara bahwa kebenaran bisa bersifat multidimensional. Artinya ada beberapa bidang keilmuan bisa lahir dari semua sumber pengetahuan.

  1. B.    Pengertian Agama

Kata agama dalam bahasa inggris disebut “Religion”, dalam bahasa belanda disebut “Religie”. Kedua kata tersebut terambil dari bahasa induk yaitu bahasa latin yang memiliki arti “Religare”[10], to treat carefully (Ciicero), Relegere, to bind together (Lactantius), atau Religare, to recover (Agustinus).[11]

Dalam bahasa Arab, kata Agama disebut dengan “al-Di>n” yang terambil dari akar kata “Da>na-Yadi>nu” yang berarti : (1). Cara atau adat kebiasaan; (2). Peraturan; (3). Undang-undang; (4). Ta’at atau patuh; (5). Menunggalkan Tuhan; (6).Pembalasan; (7). Perhitungan; (8). Hari kiamat; dan (9). Nasihat.

Menurut Fachruddin alkahiri, kata agama dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa sangsekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu: “a” yang berarti “Tidak” dan “Gama” yang berarti “berantakan”. Jadi kata “Agama” adalah tidak berantakan, atau dalam pengertian lain berarti teratur. Yang dimaksud agama adalah suatu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun sesuatu yang gaib, ataupun mengenai budi-pekerti, pergaulan hidup bersama dan lainnya.[12] 

Aljurjani menerangkan persamaan dan perbedaan antara al-Di>n, pada satu pihak,dengan al-Millah dan al-Madhhab pada pihak lain. Menurut beliau al-Di>n, Millah ataupun al-Madhhab bersamaan dalam materinya. Perbedaan terletak dalam kesannya: al-Di>n dinisbatkan kepada Allah, seperti Di>n Alla>h, al-Millah dinisbatkan kepada nabi tertentu, seperti Millat ibra>hi>m, dan al-Madhhab dinisbatkan kepada mujtahid tertentu, seperti madhhab Syafi’i>.[13] Adapun dalam pandangan Ibnu Rushd, istilah al-Di>n dan al-Millah terkandung substansi yang sama, yakni syari’at atau agama yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-Nya.[14]

Menurut Husain Ismail, agama adalah jalan atau metode yang bersumber dari Sang Pencipta untuk mengetahui sifat, perbuatan dan tujuan diri-Nya menciptakan makhluk secara umum dimana manusia termasuk di dalamnya.[15]

Di dalam al-Qur’an kata al-Di>n digunakan, baik untuk islam maupun non islam, termasuk juga kepercayaan terhadap berhala-berhala dan sesembahan lainnya.[16]

  1. a.     Pembagian Agama

Pembagian Agama menurut ahmad Abdullah al-masdoosi dapat dikelompokkan menjadi Tiga:[17]

  1. Revealed and non-Revealed Religions. Revealed Religion (Agama wahyu) adalah agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, kepada para rasul-Nya, dan kepada Kitab-kitab-Nya serta pesannya untuk disebarkan kepada segenap ummat manusia. Sedangkan non-revealed religion adalah agama yang tidak memandang esensial penyerahan manusia kepada kepada tata aturan ilahi. Menurut al-masdoosi, yang termasuk revealed religion adalah Yudaisme, Kristen, dan Islam.
  2. Agama Missionary dan Agama non-missionary, Sir TW. Arnold memasukkan budhisme, Kristen, dan Islam pada golongan agama missionary, sedangkan Yudaisme, Brahmanisme, dan Zoroasterianissme dimasukkan pada golongan non-missionary. Adapun menurut al-masdoosi, baik agama Nasrani maupun Budhisme, ditinjau dari segi ajarannya yang asli, bukanlah tergolong agama missionary, sebagaimana juga agama lainnya (selain Islam). Menurutnya hanya Islam-lah ajaran yang asli merupakan agama missionary. Namun dalam perkembanganya ternyata bahwa baik agama Nasrani maupun Budhisme menjadai agama missionary.
  3. Geoghraphical-racial and universal, Ditinjau dari segi rasial dan geografikal, agama-agama di dunia dapat dikelompokkan menjadi tiga: (1). Semitik; ialah agama Yahudi, agama Nasrani dan agama Islam; (2). Arya; ialah Hinduisme, Jainisme, Sikhisme, dan Zoroasterianisme; (3). Non semitik Monggolian; ialah Confusianisme, Taoisme, dan Sinthoisme.
  4. Agama Samawi dan Agama Non-Samawi, Agama merupakan satu sistem credo (tata keimanan) dan sistem ritus (tata peribadatan), juga suatu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribatan.

Ditinjau dari segi sumbernya, maka agama dapat dibedakan menjadi dua:

  1. Agama samawi, seperti agama langit, agama wahyu, agama profetis, revealed religion, Di>n al-Samawy
  2. Agama Budaya; adalah agama bumi, agama filsafat, agama ra’yu, non-revealed religion, natural religion, Di>n al-T}abi’i>, Di>n al-Ard}.
  3. b.     Tujuan, Guna, dan Fungsi Agama

Pada dasarnya, manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan yang dapat melahirkan nilai-nilai guna menopang kehidupannya. Selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan, dalam waktu bersamaan juga harus merupakan suatu kebenaran. Demikian juga cara berkepercayaan-pun harus benar. Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam dunia nyata ditemukan bentuk-bentuk kepercayaan yang berbeda. Hal itu dapat menimbulkan  kepercayaan yang mungkin semua salah atau salah satu diantaranya benar.[18] Adapun salah satu kepercayaan yang dapat diakui kebenaraannya adalah kepercayaan terhadap agama.

Agama sebagai sistem kepercayaan (iman), memiliki dua pengertian: (1). Kepercayaan  (iman) sebagai institusi, yaitu iman yang merupakan bagian (paling pokok) dari agama sendiri, yang berposisi sebagai bentuk kepercayaan yang tertinggi yang diakui kebenarannya. Seperti rukun iman dalam islam; (2). Kepercayaan (iman) sebagai sikap jiwa, sikap jiwa mempercayai dan menerima sesuatu sebagai benar, yaitu sikap jiwa sami’na> wa at}a’na>  (kami mendengar dan mematuhi), serta mematuhi firma ilahi dengan sepenuh kedirian, memusatkan segala pengabdian hanya kepada-Nya, menyerahkan diri, hidup dan mati semata-mata untuk-Nya.[19]

Eksistensi agama—selain—sebagai sistem kepercayaan yang mengharuskan adanya kebenaran, juga sebagai tindakan praktis terhadap aplikasi kepercayaan (iman) yang telah diakui kebenaraanya. Dalam hal ini Ibnu Sina memiliki dua aspek missi, yaitu missi teoritis dan praktis. Missi teoritis berfungsi mengarahkan jiwa manusia menuju kebahagiaan abadi dengan mengajarkan ajaran dasar keimanan terhadap eksistensi Tuhan, realitas wahyu, dan kenabian serta kehidupan sesudah mati. Adapun missi praktis mengajarkan aspek-aspek praktis agama sebagai tindakan ritual untuk dilaksanakan oleh seseorang yang beriman.[20]

  1. c.     Kebenaran Agama

Peran agama sebagai bentuk kepercayaan mengharuskan adanya keyakinan terhadap prinsip-prinsip dan norma-norma agama yang diakui kebenarannya. Keyakinan tersebut haruslah bersumber dari kebenaran yang hakiki dan tidak ada keraguan.

Di dalam doktrin agama, terdapat beberapa landasan yang menunjukan, bahwa—di samping—ada kebenaran yang muthlak yang langsung dari Allah swt. diakui pula eksistensi kebenaran relatif yang merupakan hasil usaha pencapaian budaya manusia[21], seperti: kebenaran spekulatif filsafat dan kebenaran positif ilmu pengetahuan serta kebenaran pengetahuan biasa di dalam kehidupan sehari-hari.[22]

Menyangkut konsep kebenaran, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu: sumber otoritas atau justifikasi dan metode untuk memperolehnya. Kebenaran agama sumber otoritasanya adalah wahyu dari Tuhan. Oleh karenanya, konsep kebenaran dalam pemahaman agama selalu dirujukan kepada apa yang dikatakan wahyu. Adapun justifikasi sebuah kebenaran ilmiah terletak pada prosedur dan hasil pengujian, bukan pada keyakinan metafisis seperti kebenaran wahyu.[23] Sejalan dengan pendapat ini, Muhammad al-Husaini ismail mengatakan, bahwa Permasalahan-permasalahan yang menyangkut agama telah menjadi “permasalahan muthlak”, bukan “permasalahan relatif”.[24]

 

  1. C.    Hubungan Ilmu Pengetahuan Dengan Agama

 

Menurut Muhammad Abduh, agama merupakan sebuah produk Tuhan. Tuhan juga mengajarkannya kepada umat manusia, dan membimbing manusia untuk menjalankanya. Agama merupakan alat untuk akal dan logika, bagi orang-orang yang ingin kabar gembira dan sedih. agama menurut sebagian orang merupakan sesuatu hal yang menyangkut hati; suatu hal yang sangat berarti; suatu hal  yang menuntun jiwa untuk menemukan keyakinan. Agama dengan eksistensinya telah membuatnya berbeda dengan segala apa yang pernah ada, membuatnya berbeda dengan dengan segala yang pernah dimiliki manusia. Agama membuat orang melakukan aktifitas yang harus bersesuaian dengan apa yang diajarkannya, baik tuntunan itu berat ataupun ringan. Agama menjadikan kehidupan manusia lebih teratur dalam kehidupannya, karena segala dorongan dan keinginannya menjadi lebih terarah. Agama menjadi pemimpin roh jiwa manusia. Ia juga berperan aktif membimbing manusia untuk memahami ajaran-ajaranya. Diibaratkan seorang manusia layaknya seorang yang berada diujung pedang, jika salah maka orang tersebut mati olehnya, tetapi agama agama datang sebagai penyelamat. Apapun yang terjadi pada manusia, ia tidak akan bisa terlepas dari agama. Sangat mustahil memisahkan kehidupan manusia dari agama. Seperti halnya menghilangkan luka bekas operasi dari kulit manusia.[25]       

Bagi kalangan barat, agama adalah penghalang kemajuan. Oleh karena itu, mereka beranggapan, jika ingin maju maka agama tidak boleh lagi mengatur hal-hal yang berhubungan dengan dunia. Seorang Karl marx mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat, candu merupakan zat yang dapat menimbulkan halusianasi yang membius. Marks mendefinisikan bahwa setiap pemikiran tentang agama dan tuhan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. sebagai seorang materialisme, Marks sama sekali tidak percaya adanya Tuhan dan secara tegas ia ingin memerangi semua agama. Dalam pernyataan Marks, sebenarnya yang dimaksud dengan candu masyarakat merupakan kritik terhadap realitas yang tidak berpihak pada kaum lemah. Misalnya orang yang sedang kelaparan hanya membutuhkan nasi atau sepotong roti untuk mengisi perutnya, bukan membutuhkan siraman rohani ataupun khutbah yang berisikan tentang kesabaran, namun tidak memperdulikan tentang realitas sosial

Dalam pandangan saintis, agama dan ilmu pengetahuan mempunyai perbedaan. Bidang kajian agama adalah metafisik, sedangkan bidang kajian sains / ilmu pengetahuan adalah alam empiris. Sumber agama dari tuhan, sedangkan ilmu pengetahuan dari alam.

Dari segi tujuan, agama berfungsi sebagai pembimbing umat manusia agar hidup tenang dan bahagia didunia dan di akhirat. Adapun sains / ilmu pengetahuan berfungsi sebagai sarana mempermudah aktifitas manusia di dunia. Kebahagiaan di dunia, menurut agama adalah persyaratan untuk mencapai kebahagaian di akhirat.

Menurut Amstal, bahwa agama cenderung mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan, eksklusif dan subjektif. Sementara ilmu pengetahuan selalu mencari yang baru, tidak terikat dengan etika, progesif, bersifat inklusif, dan objektif. Meskipun keduanya memiliki perbedaan, juga memiliki kesamaan, yaitu bertujuan memberi ketenangan. Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati, Sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.[26] Misalnya, Tsunami dalam Konteks agama adalah cobaan Tuhan dan sekaligus rancangan-Nya tentang alam secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia harus bersabar atas cobaan tersebut dan mencari hikmah yang terkandung dibalik Tsunami. Adapun menurut ilmu pengetahuan, Tsunami terjadi akibat pergeseran lempengan bumi, oleh karena itu para ilmuwan harus mencari ilmu pengetahuan untuk mendeteksi kapan tsunami akan terjadi dan bahkan kalau perlu mencari cara mengatasinya.

Karekteristik agama dan ilmu pengetahuan tidak selau harus dilihat dalam Konteks yang berseberangan, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduanya bersinergi dalam membantu kehidupan manusia yang lebih layak. Osman Bakar mengatakan bahwa epistemology, metafisika, teologi dan psikologi memiliki peran penting dalam mengembangkan intelektual untuk merumuskan berbagai hubungan konseptual agama dan ilmu pengetahuan.[27]Peran utamanya adalah memberikan rumusan-rumusan konseptual kepada para ilmuan secara rasional yang bisa dibenarkan dengan ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan untuk digunakan sebagai premis-premis dari berbagai jenis sains. Misalnya kosmologi, dengan adanya kosmologi dapat membantu meringankan dan mengkonseptualkan dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti fisika dan biologi.

Ilmu pengetahuan yang dipahami dalam arti pendek sebagai pengetahuan objektif, tersusun, dan teratur. Ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari agama. Sebut saja al-Quran, al-Quran merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan sumber rujukan bagi agama dan segala pengembangan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan orang islam tentang keterpaduan ilmu pengetahuan dan agama. Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui banyak cara dan jalan, tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan. Dalam pandangan al-Quran, pengetahuan tentang benda-benda menjadi mungkin karena Tuhan memberikan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengetahui. Para ahli filsafat dan ilmuan muslim berkeyakinan bahwa dalam tindakan berpikir dan mengetahui, akal manusia mendapatkan pencerahan dari Tuhan Yang Maha mengetahui sesuatu yang belum diketahui dan akan diketahui dengan lantaran model dan metode bagaimana memperolehnya.[28]

Al-Quran bukanlah kitab ilmu pengetahuan, tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang selalu dihubungkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Panggilan al-Quran untuk “membaca dengan Nama Tuhanmu” telah dipahami dengan pengertian bahwa pencarian pengetahuan, termasuk didalamnya pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada pengetahuan tentang realitas Tuhan. Hal ini dipertegas oleh Ibnu Sina yang menyatakan, Ilmu pengetahuan disebut ilmu pengetahuan yang sejati jika menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan Prinsip Tuhan.[29]

Agama dan ilmu pengetahuan memang berbeda metode yang digunakan, karena masing-masing berbeda fungsinya. Dalam ilmu pengetahuan kita berusaha menemukan makna pengalaman secara lahiriyah, sedangkan dalam agama lebih menekankan pengalaman yang bersifat ruhaniah sehingga menumbuhkan kesadaran dan pengertian keagamaan yang mendalam. Dalam beberapa hal, ini mungkin dapat dideskripsikan oleh ilmu pengetahuan kita, tetapi tidak dapat diukur dan dinyatakan dengan rumus-rumus ilmu pasti.[30]

Sekalipun demikian, ada satu hal yang sudah jelas, bahwa kehidupan jasmani dan rohani tetap dikuasai oleh satu tata aturan hukum yang universal. Ini berarti, baik agama maupun ilmu pengetahuan, yaitu Allah. Keduanya saling melengkapi dan membantu manusia dalam bidangnya masing-masing dengan caranya sendiri.[31]

Fungsi agama dan ilmu pengetahuan dapat dikiaskan seperti hubungan mata dan mikroskop. Mikroskop telah membantu indera mata kita yang terbatas, sehingga dapat melihat bakteri-bakteri yang terlalu kecil untuk dilihat oleh mata telanjang. Demikian pula benda langit yang sangat kecil dilihat dengan mata telanjang, ini bisa dibantu dengan teleskop karena terlalu jauh. Demikian halnya dengan wahyu Ilahi, telah membantu akal untuk memecahkan masalah-masalah rumit yang diamati oleh indera.[32] Jika ini hanya dilakukan oleh akal maka akan menyesatkan manusia.    

Berikut beberapa perbandingan sementara mengenai sumber dari ilmu pengetahuan dan agama:[33]

Tabel 2.2. Perbandingan Sementara Mengenai Sumber Dari Ilmu Pengetahuan Dan Agama

Sumber Ilmu Pengetahuan

Sumber Agama

  1. Didapat melalui proses bernalar ( rasionalism) tanpa melalui proses pengalaman ( empirisme)
  2. Didapat melalui rasio dan diproses dengan metode induktif
  3.  Didapat melalui pengalaman dan diproses dengan metode induktif
  4. Bersifat dogmatik
  5. Mengandung nilai-nilai yang berkaitan dengan keyakinan
  6. Kebenaran dalam agama tidak selalu diterima dengan nalar / logika
  7. Sumber agama melalui intuisi dan wahyu
 

 

BAB III

KESIMPULAN

Dari beberapa paparan tersebut, untuk sementara bisa diambil konklusi sebagai berikut:

  1. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian aktifitas berfikir dan memahami dengan mengikuti prosedur sistematika metode dan memenuhi langkah-langkah klasifikasi.
  2. Agama adalah produk Tuhan yang bersifat dogmatik dan tidak selalu bisa diterima dengan system ilmu pengetahuan.
  3. Agama dan Ilmu Pengetahuan mempunyai peran masing-masing yang sangat mendukung satu sama lain untuk memberikan kehidupan yang berkualitas.

 

 

BIBLIOGRAFI

Abduh, Muhammad, Islam; Ilmu Pengetahuan dan Msyarakat Madani,terj olehHaris Fadillah. Jakarta: Raja Grafindo, 2004.

 

Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama,.Surabaya: Bina Imu, Cet.7, 1987.

 

Bakar,  Osman, DR, Tawhid and Science; Islamic perspective on Religion and Science, . Malaysia: sdn BHR, 2008.

 

Bakhtiar, Amsal, Filsasat Ilmu,. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.

 

Gie, The Liang, Pengantar Filsafat Ilmu,. Yogyakarta: Liberty, 2004.

Isma’il, Muhammad al-Husain, Kebenaran Mutlak,. Jakarta: SAHARA, 2006

 

Nasr, Seyyed Hossein, The Heart of Islam,. Bandung: Mizan, 2003.

 

Qadir, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya,. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1938.

 

Qur’a>n (al), 42 (al-Shu>ra>):13, 21; 48 (al-Fath):28; 109 (al-Ka>firu>n): 6.

 

Soedewo, Ilmu pengetahuan dan Agama,. Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah, 2007.

 

Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer ,.Jakarta:PustakaSinar Harapan, 2003.

 

Wijaya, Aksin, Teori Interpretasi al-Qur’an Ibnu Rusyd, . Yogyakarta: LkiS, 2009.

 

Wijaya, Utang, Kuliah Ilmu Pemerintahan,. pdf.microsoft power point.

Zubair, Achmad Charris, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia,. Yogyakarta: LESFI, 2002.

 

ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA

Makalah

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

Filsafat Ilmu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Abdul basid

NIM. Fo.054 111 85

 

 

Dosen Pembimbing:

Dr. H. Achmad Muhibin Zuhri, M.Ag.

1972 0711 1966 603 100

 

 

 

 

 

 

KONSENTRASI TAFSIR HADITH

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011

 

 

 


 

[2] Qadir, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1938), 37.

[3] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2004), 39.

.

[4]The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu …93.

[5]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta:PustakaSinar Harapan, 2003), 93.

[6]Ibid.96.

[7]Ibid.98

[8]Amsal Bakhtiar, Filsasat Ilmu (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), 98-110.

[9]Achmad Charris Zubair, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia (Yogyakarta: LESFI, 2002),17. Pemilahan sumber ilmu dan pemasangannya dengan struktur realitas serta keilmuan dalam tabel di atas tidak mutlak seperti itu adanya.

[10]Seyyed Hossein Nasr mengartikan Religare dengan arti “mengikat” sebagai lawan dari “membebaskan”. Dalam agama-agama india, kebebasan diidentifikasi dengan pelepasan dari ikatan semua keterbatasan, atau yang disebut ummat hindu “moksa” , dan dari perputaran roda kesusahan yang berulang-ulang, dari dari mata rantai kelahiran dan kematian di dunia yang berubah, yang ditekankan dalam agama budha. Dalamkebanyakan kitab suci, kebebasan diidentifikasi dengan melepaskan diri dari keterbatasan eksistensi kita sendiri dan bukan kebebasan individu, yaitu “ego”. Seperti yang telah dikatakan oleh banyak orang suci muslim, agama adalah untuk membuat kita mampu meraih kemerdekaan  dari kekuasaan diri dan bukan untuk menimbulkan kebebasan diri. Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, (Bandung: Mizan, 2003), 355.

[11]Ibid. 119.

[12]Ibid.122.

[13]Ibid, 121

[14]Aksin Wijaya, Teori Interpretasi al-Qur’an Ibnu Rusyd, (Yogyakarta: LkiS, 2009), 72.

[15]Muhammad al-Husain Isma’il, Kebenaran Mutlak, (Jakarta: SAHARA, 2006), 304

[16]Al-Qur’a>n, 42 (al-Shu>ra>):13, 21; 48 (al-Fath):28; 109 (al-Ka>firu>n): 6. dll.

[17]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: Bina Imu, Cet.7, 1987), 126-129

[18]Ibid.138-139., (2). Dalam beberapa kasus, yang disebabkan oleh kebutuhan manusia terhadap kepercayaan yang  benar, seringkali terdapat segolongan orang yang berganti-ganti kepercayaan, salah satu contoh adalah Auguste Conte (1798-1857, seorang ahli matematika dan filsafat dari perancis dan pelopor filsafat Positivisme) yang mengetahui bahwa pengalamannya dengan agama yang dianutnya (agama kristen) telah mengalami kegagalan sehingga berakibat pada sikap penolakan dirinya terhadap semua agama yang kamudian ia sendiri membuat sebuah agama baru yang bernama “Agama Kemanusiaan”. Baca, Muhammad al-Husain Isma’il, Kebenaran Mutlak. Hal. 24-26

[19]Ibid. 143

[20]Baca, Seyyed Hossein Nasr, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, hal. 80-82

[21]Hikmah adalah barang  yang  hilang milik orang yang beriman; dimanapun mereka menemukan hikmah itu, mereka paling berhak memilikinya. (2). Firman Allah: “Berilah kabar gembira hamba-hamba-Ku, yang  mau mendengarkan “al-Qaula” (idea, pendapat), kemudian mengikuti yang paling baik”. QS. Az-Zumar : 17-18.

[22]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, 147

[23]Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama (Jakarta: Paramadina, 1996), 160.

[24]Muhammad al-Husain Isma’il, Kebenaran Mutlak, 305-306

[25]Muhammad Abduh, Islam; Ilmu Pengetahuan dan Msyarakat Madani,terj olehHaris Fadillah (Jakarta: Raja Grafindo, 2004) hal.4.

[26] Amtsal Bakhtiar,  Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal.230-231.

[27] Osma Bakar, DR, Tawhid and Science; Islamic perspective on Religion and Science,  (Malaysia: sdn BHR, 2008), hal.60.

[28]  Ibid, hal.149.

[29]  Ibid, hal.150.

[30] Soedewo, Ilmu pengetahuan dan Agama, (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah, 2007),  59.

[31]  Ibid,. 60.

[32]  Ibid,. 61.

[33] Utang Wijaya, Kuliah Ilmu Pemerintahan,(pdf.microsoft power point).