KAIDAH KUALIFIKASI INTELEKTUAL MUFASSIR

Oleh: Abdul Basid

DiPresentasikan Di Seminar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

Abstraks

This article focuses on some intellectual requirements of Koran interpreters and their urgency and effect to the Koran interpretation. the article argues that interpreting Koran requires some disciplines of knowledge one must master them before interpreting the Koran. It also gives us proves of the urgency of the some disciplines of knowledge effects the quality of the interpretations. This article specially will presentation to know qualification of interpreter.

Bab I

Pendahuluan

Hanya mufassir yang memenuhi kriteria yang bisa dan pantas melakukan penafsiran dalam al-Qur’an, jika tidak maka sebuah penafsiran ayat al-Qur’an tidak akan sempurna, begitulah yang dikatakan adz-Zahabi. Adanya persyaratan ini sebenarnya sudah menjadi otoritas dari sebuah ilmu, dalam bidang kedokteran saja seseorang tidak dperbolehkan menangani pasien jika tidak paham benar ilmu tentang kedokteran. Bagaimana jika sebuah penafsiran al-Qur’an dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak kompeten menafsirinya, maka akan terjadi sebuah kesalahan yang terus menerus diajarkan dari masa ke masa dan terus menerus menyesatkan orang yang mempelajarinya.

Bab II

Pembahasan

Seorang mufassir al-Quran perlu memiliki kualifikasi (syarat-syarat) dan berbagai bidang ilmu pengetahuan secara mendalam. Untuk menjadi mufassir yang diakui, maka harus memiliki kemampuan dalam segala bidang. Para ahli telah memformulasikan tentang syarat-syarat dasae yang diperlukan bagi seorang mufassir.[1]

Untuk dapat menafsirkan al-Quran, maka diperlukan oleh seorang mufassir. Orang yang dapat menafsirkan al-Quran hanya orang yang memiliki keahlian dan menguasai ilmu tafsir (Ilmu pengetahuan tentang al-Quran), sedangkan orang yang belum banyak mengerti tentang ayat dan tata cara menafsirkan al-Quran dan tidak menguasai ilmu Tafsir tidak diperbolehkan menfsirkan al-Quran, hal ini dimaksudkan agar jangan sampai kitab suci ditafsirkan hanya sesuai dengan hawa nagsu keinginan mufassir, sehingga tidak sesuai dengan maksud yang dikehendaki Allah dalam firman-Nya.[2]

Larangan menafsirkan al-Quran tanpa dasar Ilmu Pengetahuan tentang al-Quran berdasarkan surat al-A’raf:33[3]

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang Nampak atau yang sembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar dan (mengharamkan) karena mempersekutuan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengada-adakan terhadap Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui.

 

Penjelasan larangan menafsirkan al-Quran tanpa ilmu pengetahuan adalah terletak pada lafadz وَأَنْ تَقُولُوا yang di athof  kan kepada hal-hal yang diharamkan sebelum lafadz ini. Oleh sebab itu mengatakan sesuatu mengenai kitab Allah tanpa dasar pengetahuan termasuk sesuatu yang diharamkan.

Selain itu terdapat hadith Nabi yang juga melarang menafsirkan al-Quran tanpa didasari ilmu pengetahuan (terkait dengan al-Quran) dengan pemberian ancaman masuk neraka.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya:

dari said bin jubair, dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa yang mengatakan tentang al-Quran tanpa dasar ilmu pengetahuan, maka tempat yang paling layak baginya adalah neraka (HR.a-Tirmidzi)

Asbabul wurud dari hadith ini terjadi ketika pada zaman nabi banyak para sahabat yang melakukan penafsiran tanpa ada dasar-dasar ilmu pengetahuan.[4] Maksud dari hadith ini adalah bahwa bagi yang menafsirkan al-Quran tanpa didasari ilmu pengetahuan akan memberikan peluang bagi orang bodoh dan orang-orang yang mempunyai niat tidak baik untuk melakukan penyelewengan terhadap al-Quran. Hal ini disebabkan mereka akan menafsirkan al-Quran dengan dasar nafsu yang pada gilirannya bertujuan membela pendapatnya atau bahkan sekedar membela kelompok atau madzhabnya.

Adapun persyaratan bagi seorang mufassir adalah sebagaimana dijelaskan oleh beberapa ulama berikut:

  1. Syekh Muhammad Hussein Adz-Dazhabi:[5]

Syarat bagi seorang mufassir adalah menguasai ilmu Nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu Lughah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu ma’ani, Ilmu Bayaan, Ilmu Badi’ Ilmu Qira’at, Ilmu Kalam, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Qashas, Ilmu Nasikh mansukh, Ilmu Hadith dan Ilmu Mauhibah (Ilmu karunia dari Allah)

  1. Syekh Manna’ al-Qaththan:[6]

Syarat seorang mufassir dan tata cara menafsirkan adalah bebas dari hawa nafsu, memulai menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, mencari tafsir dari al-Sunnah, prndapat dari tabi’in, mengetahui bahasa Arab dengan semua cabangnya, mengetahui pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan ilmu Al-Quran, dan memiliki ketajaman berpikir.

  1. Khalid al-Sabt[7]

Syarat bagi seorang mufassir (yang hampir semuanya mengenai bahasa Arab) yaitu harus mengetahui Fiqh al-Lughah, Hukum Kalimah, Ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ Mubham dan Mufasshal, ‘Am dan Khas, Ilmu Kalam, dan Ilmu Qiraat

  1. Imam as-Suyuti[8]

Dalam kitabnya “al-Itqa>n” menyebutkan beberapa jenis ilmu yang diperlukan dalam menafsirkan al-Quran, yaitu:

  1. Ilmu bahasa: Ilmu Lughat sangat penting dalam menafsirkan al-Quran, guna untuk menegetahui kosakata penjelasan mufradat-mufradat (perbendaharaan kata). Jadi tidak cukup dalam menafsirkan al-Quran kalau hanya sekedar mengetahui ilmu bahasa secara mudah. Ada kalanya suatu lafadz mengandung makna musytarak (makna ganda) sekiranya hanya mengetahui salah satu dari pengertian kata sedangkan yang lain tidak diketahui, padahal makna yang lain itu dimaksud.
  2. Ilmu Nahwu: Ilmu ini sangat penting sekali, karena ilmu ini menyingkap tentang perubahan makna dan mempunyai pengertian yang lain karena perubahan I’rab nya. Semua bentuk I’rab benar-benar dikuasai agar dapat ditentukan makna yang dimaksud dalam susunan kalimat yang berbentuk berdasarkan I’rab nya. Ilmu Nahwu sangat penting karena susunan kata-katanya dapat diketahui dengan jala pembentukan kata dab I’rab suatu kalimat. Imam Hasan (Hasan bin Abi thalib) pernah ditanya tentang pentingnya mempelajari bahasa Arab, agar seseorang mengucapkan kata-kata dengan tepat serta membacanya dengan baik. Lalu Hasan menjawab: baguslah hendaklah kamu pelajari ilmu Nahwu karena sesorang yang membaca al-Quran.
  3. Ilmu Sharaf: seorang mufassir yang diketahui tentang ilmu sharaf, berarti ia dapat mengerti tentang pembentukan kalimat, timbangan kata, sighat kata dan sifat kata-kata. Bila diketahui kata-kata yang sulit, lalau segera dikembalikan pada akar katanya serta pengertiannya. Seorang yang tidak mengetahui Ilmu Sharaf dalam menafsirkan al-Quran niscaya akan terdapat kekalahan, kekeliruan dalam menafsirkan al-Quran.
  4.  Ilmu Etimologi: di dalam bahasa Arab etimologi disebut dengan “isytiqaq” yaitu ilmu tentang asal usul kata. Ilmu ini digunakan untuk mengetahui dasar pembentukan akar kata yang melahirkan akar kata yang serumpun denga pengertian yang berlainan. Umpaamnya setiap kata benda yang berasal dari kata yang berbeda tentu mengandung makna yang berbeda juga.
  5. Ilmu Balaghah (retorika, metafora). Ilmu balaghah terdiri dari tiga macam yaitu Ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu badi’. Dengan mempergunakan ilmu ma’ani seorang mufassir dapat mengetahui keistimewaan susunan kalimat, sehingga dapat mengambil faedah dari satu segi makna yang tepa. Dan dengan ilmu baya>n dapat mengetahui susunan kalimat yang khusus terutama dari segi perbedaan susunan kalimat yang menjelaskan tentang maksud suatu kalimat baik kalimat itu jelas maupun tidak jelas. Dengan menggunakan ilmu badi’dapat diketahui tentang segi-segi keindahan dari suatu kalimat.
  6. Ilmu Qira’at (cara-cara membaca al-Quran), dengan ilmu Qira’at dapat diketahui pembacaan yang benar dari beberapa kandungan penafsiran dalam al-Quran.
  7. Ilmu Ushuluddin, dengan Ilmu ini dapat diketahui kaidah-kaidah yang berhungan dengan sifat Allah dan pembahasan tentang iman.
  8. Ilmu Ushul Fiqh, dengan mengetahui ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui dan menganalisa teantang istidhlal (pembuktian) hukum-hukum yang terkandung dalam al-Quran.
  9. Ilmu Asbabu an-Nuzul, dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui sebab dan latar belakang turunnya masing-masing ayat al-Quran.
  10. Ilmu Nasikh dan Mansukh, dengan ilmu ini mufassir dapat mengetahui ayat-ayat dari al-Quran yang di nasikh kan dan di mansukh kan.
  11. Ilmu Hadith, seorang mufassir yang mengetahui ilmu hadith maka akan dibantu untuk mengidentifikasikan ayat-ayat yang mujmal dan mubham.
  12. Ilmu Mubhamah, Imam asy-syuyuti mengatakan ilmu mubhamah sangat penting bagi seorang mufaasir karena ilmu ini merupakan aplikasi dari ilmu yang telah dikaji oleh mufassir untuk mengamalkannya.
  13. Ilmu sains dan teknologi, ilmu sains dan teknologi sangat diperlukan untuk menafsirkan al-Quran, terutama dalam upaya menemukan teori-teori dibidang kedokteran, ilmu fisika, matematika. Karena di dalam al-Quran banyak ayat menyebutkan tentang alam semesta

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat bagi seorang mufassir adalah:

  1. Mengetahui bahasa Arab dan kaidah-kaidah bahasa (ilmu tata bahasa, sintaksis, etimologi, dan morfologi), ilmu retorika (ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu Badi’), ilmu ushul fiqh (Khas, ‘Am, Mujmal, dan mufasshal). Tanpa memahami secara mendalam tentang bahasa al-Quran, maka besar kemungkinan bagi seorang mufassir akan melakukan penyimpangan (distorsi) dan kesalahan interpretasi. Jika seseorang tidak dapat memahami makna ayat, kosa kata dan idiom secara literal maka ia akan terjerumus kepada kesalahan dan menyebabkan terjadinya penafsiran yang kontroversial.
  2. Mengetahui pokok-pokok ulum al-Quran, seperti ilmu Qira’at, Ilmu asbabun Nuzl, Ilmu nasikh mansukh, Ilmu Muhkam Mutasyabih, Ilmu makkai madani, Ushul Tafsir, ilmu Qashash al-Quran, ilmu Ijaz al-Quran, ilmu amtsa al-Quran. Tanpa mengetahui kesemuanya itu seorang mufassir tidak akan dapat menjelaskan arti dan maksud ayat dengan baik dan benar.
  3. Mengetahui Ilmu sains dan teknologi untuk bisa bersaing dan menemukan teori-teori baru yang terkandung dalam al-Quran.
  4. Mengetahui hadith-hadith Nabi dan segala macam aspeknya. Karena hadith-hadith itulah yang berperan sebagai penjelas terhadap al-Quran, sebagaimana keterangan surat al-Nahl:44.
  5. Mengetahui hal ihwal manusia dan tabia’t nya, terutama dari orang-orang Arab pada masa turunnya al-Quran, agar mengerti keselerasan hukum-hukum al-Quran yang diturunkan untuk mengatur perbuatan-perbuatan mereka.

 

Menurut Imam al-Zarqani, bahwa keharusan memenuhi semua, syarat-syarat tersebut adalah untuk dapat mencapai tingkatan tafsir yang tertinggi, untuk mengetahui dan menjelaskan arti dan maksud ayat-ayat al-Quran dan mengistimbatkan kandungan hukum-hukumnya.[9] Tetapi kalau hanya sekedar untuk mencapai tingkatan tafsir yang terendah, hanya sekedar mengetahui arti ayat yang umum secara singkat, agar dapat merenungkan kebesaran Allah. al-Zarqani menambahkan karena apabila semua orang yang akan memahami, mengetahui dan merenungi arti dan maksud ayat harus lebih dahulu memenuhi segala syarat-syarat tersebut.[10]

Menurut Ibn Mandah, “Seseorang tidak bisa menjadi penafsir kecuali telah menguasai ilmu-ilmu ini (yang merupakan perangkat bagi penafsir). Barang siapa menafsirkan tanpa ilmu-ilmu tersebut, maka ia termasuk penafsir dengan pendapat yang dilarang dan jika ia menafsirkan dengan ilmu-ilmu tersebut, maka ia tidak termasuk penafsir dengan pendapat yang dilarang.”[11]

Sebenarnya syarat-syarat di atas kurang memadai, tetapi minimal sudah sepantasnya ada pada diri penafsir mengingat kandungan al-Quran mencakup banyak hal, baik berupa akidah, syari’ah, akhlak, informasi tentang umat terdahulu, dan informasi tentang masa depan.[12] Penafsir ibarat seorang pejalan kaki pada malam hari yang membutuhkan alat penerang agar sampai di tempat tujuan, dan ilmu-ilmu tersebut adalah alat penuntun mereka dalam berusaha memperoleh penafsiran sebagaimana yang dikehendaki Allah. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa menafsirkan al-Quran selain karena tidak memiliki ilmu yang memadai, ada juga yang takut kepada Allah bila menafsirkan tanpa ilmu seperti tokoh sekaliber Abū Bakr al-Ṣiddīq.[13]

Pada generasi sahabat dan tabi’in hanya beberapa orang yang bisa menafsirkan al-Quran padahal jarak waktu zaman mereka dekat dengan zaman Nabi, dan problem hidup yang mereka hadapi tidak begitu kompleks seperti yang dihadapi oleh generasi-generasi sesudahnya hingga sekarang yang menuntut mereka untuk menguasai beragam disiplin ilmu yang lebih banyak guna menghasilkan penafsiran yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. bahkan ada sebagian sahabat yang enggan menafsirkan al-Quran seperti Abū Bakr al-Siddi>q dan Ibn ‘Abbās, dan sebagian tabi’in seperti Sālim ibn ‘Abdullāh, al-Qāsim ibn Muḥammad, Sa’īd ibn al-Musayyab, Jundub ibn ‘Abdullāh, dan al-Sha’bī. Padahal mereka lebih layak dan mumpuni dalam menafsirkan al-Quran, karena beragam disiplin ilmu di atas sudah tentu ada pada diri mereka.[14]

Adz-Zahabi berpendapat, bahwa jika seorang mufassir tidak terpenuhi pada diri penafsir, tentu saja bisa berdampak sangat fatal sehingga menurunkan kualitas tafsirnya.Dampak bilamana seorang mufassir tidak memahami Ilmu tersebut adalah:[15]

  1. Seorang mufassir akan cenderung fanatik dengan pemikirannya.
  2. Seorang mufassir akan terpengaruh oleh situasi lingkungannya.

Penulis lebih cendrung dengan pendapat adz-Zahabi, karena seorang mufassir harus mempunyai ilmu yang berkaitan dengan tafsir, ilmu tentang tafsir  adalah alat yang dipakai untuk mengupas tuntas apa dan bagaimana al-Qur’an dikaji, seorang petani tidak akan bisa membajak sawahnya apabila tidak mempunyai alat untuk membajak dan mencangkul sawahnya, sama halnya bagi seorang mufassir al-Quran harus memenuhi syarat-syarat mufassir. Hazim Sa’id al-Haidar menambahkan, untuk mendapatkan penafsiran yang berkualitas, selain menguasai ilmu-ilmu tersebut mufassir juga harus memahami cabang-cabang ilmu pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh, sebagaimana berikut ini:[16]

  1. Memaham watak dan rasa terminology yang benar, yang sering digunakan dalam al-Quran berdasarkan atas pemakaian para ahli bahasa.
  2. Ilmu tentang prosedur yang indah (pendekatan sastra yang dipakai dalam praktik al-kalam (kefasihan berbicara dan penerapannya).
  3. Pengetahuan tentang ilmu-ilmu humaniora, filsafat ketuhanan, dan prosedur dalam evolusi bangsa-bangsa bersama perbedaan-perbedaannya, baik dalam kekuatan, kelemahan, iman, kufur, maupun kekerasan dan kelembutan.
  4. Pengetahuan tentang hidayah al-Quran untuk manusia. berkaitan dengan hal ini sahabat umar bin Khatab berkata: “kebaikan Islam tidak akan jelas jika seseorang tidak paham tentang kehidupan jahiliyyah.”
  5. Pengetahuan tentang biografi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya terkait dengan pengetahuan dan amaliah dalam urusan agama maupun keduniaan.

 

 

Bab III

Kesimpulan

Kaedah keilmuan yang disyaratkan bagi seorang mufassir adalah ilmu Nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu Lughah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu ma’ani, Ilmu Bayaan, Ilmu Badi’ Ilmu Qira’at, Ilmu Kalam, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Qashas, Ilmu Nasikh mansukh, Ilmu Hadith dan Ilmu Mauhibah, ilmu Science dan Teknologi, ilmu-ilmu humaniora

 


[1] Husain Bin aly> Bin al-Harby, Qawa>’id al-Tarjih ‘Inda al-Mufassirin, ( Riya>d, Da>r al-Qasim, 1996),17

[2] Manna>’ al-Qattan, Maba>hith fi Ulu>m al-Hadith, (ttp, Mansurat al-asri’ al-Hadith,1973),15

[3]  Al-Qur’an, 7:33

[4]Muhammad Mahmud Bakr, Asbab Rad al-Hadith, (Riyadh, Ja>mi’ah al-Imam Muhammad Ibn as-Su’udi, tt) 63,…Sunan At-Tirmidzi, 2357

[5] Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassiru>n, (Beirut, Maktabah al-wahbah, 2000), 21

[6]  Manna’ al-Qatta>n, Mabahith fi Ulu>m al-Qur’an, (Cairo: Maktabah al-Wahbah, 2000), 30

[7] Khalid al-Sabt, Qawa>id al-Tafsir, (Cairo: Da>r Ibnu Affan, tt), 37

[8]  Jala>ludddin as-Suyu>ti, al-Itqa>n fi Ulu>m al-Qur’an, ( Saudi Arabia: Majma’ Ma>lik Fahd, tt), 211

[9]    Muhammad abdul Adzim al-Zarqa>ni, Mana>hi al-‘Irfan fi al-Ulu>m al-Qur’an, (ttp, Da>r al-Kitab al-‘Arabi, tt), 79

[10]   Ibid, 90

[11]   Khalid al-Sabt, Qawa>id…..217

[12]  Muhammad abdul Adzim al-Zarqa>ni, Mana>hi al-‘Irfan….81

[13]  Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir….57

[14] Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir ….. 65

[15] Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir….70

[16]  Hazim Sa’id al-Haidar, Baina al-Itqan wa al Burha>n, (Madinah, Da>r az-Zaman, 2000), 19.