ABSTRAKSI

 

Dalam fakta sejarah, di masa sahabat belum ada pembukuan hadis secara resmi yang diprakarsai pemerintah, padahal peluang untuk membukukan hadits terbuka. Umar bin Khattab pernah berfikir membukukan hadits, ia meminta pendapat para sahabat, dan disarankan membukukannya. Setelah Umar bin Khattab istikharah sebulan lamanya ia membatalkan rencana tersebut. Pada masa tabi’in wilayah islam bertambah luas. Perluasan daerah tersebut diikuti dengan penyebaran ulama untuk menyampaikan ajaran ilsam di daerah-daerah, termasuk ulama hadis. Penyebaran hadis disesuaikan dengan kekuatan hafalan masing-masing ulama itu sendiri, sehingga tidak merata hadis yang dimiliki ulama hadis. Maka kondisi tersebut sebagai alasan kodifikasi hadis.

 Kodifikasi ini disinonimkan dengan tadwin al-hadits tentunya berbeda dengan penulisan hadits kitabah al-hadits.
Tadwin al-hadits mempunyai makna “penulisan hadits Nabi ke dalam suatu buku (himpunan, dan susunan) yang pelaksanaanya dilakukan atas legalitas yang berlaku umum dari lembaga kenegaraan yang diakui masyarakat. Sedangkan Kitabah al-Hadits itu sendiri asal mulanya merupakan hasil kesaksian sahabat Nabi terhadap sabda, perbuatan, taqrir, dan atau al-ihwal Nabi kemudian apa disaksikan oleh sahabat itu lalu disampaikannya kepada orang lain, dan seterusnya, baik secara lisan maupun tulisan. Jadi belum merupakan kodifikasi, akan tetapi baru merupakan tulisan-tulisan-tulisan atau catatan-catatan pribadi.

 

Kata Kunci: Perkembangan, Hadits Nabi

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Al-Hadis merupakan referensi kedua yang menjadi rujukan dalam segala amal-amal yang dilakukan oleh kaum muslimin setelah al-Qur’an. al-hadith juga bisa dijadikan sebuah penjelas dan nalar dari kitab al-Qur’an. al-hadith diibaratkan sebuah tonggak penggerak dari pondasi yang bernama al-Qur’an, al-Qur’an berjalan beriringan dengan al-hadith dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.[1] Oleh karena itu, Nabi sebagai penyampai yang alamien mempunyai sebuah amanat yang berat untuk dipikul.

Dalam hal penyampaian dari maha guru yang bernama Muhammad SAW, Nabi yang akan memberikan pertolongan dan syafa>’at pada hari akhir kelak – sangat selektif dan terencana dengan tidak memberatkan para murid atau Sahabat dalam memperoleh hadith dari beliau. Nabi memberikan dedikasi yang sangat tinggi kepada manusia bahwa Nabi tidaklah meninggalkan mobil, rumah ataupun barang-barang yang berharga lainya, melainkan beliau meninggalkan sebuah petunjuk pada kehidupan yang lebih bermakna yaitu al-Qur’an dan al-hadith.

Karya ilmiah ini fokus kajiannya berada pada lingkup cara Nabi menyampaikan hadith kepada Sahabat; kemudian dijelaskan latar belakang perbedaan ha>dits yang diterima Sahabat. Dalam penulisan karya ilmiah, penulis sadar bahwa karya ilmiah ini jauh dari kesempurnaan sehingga membutuhkan saran yang membangun demi terciptanya kebenaran yang seutuhnya.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Cara Rasul Menyampaikan Hadith Kepada Sahabat

Syeikh Muhammad at-Thahhan menjelaskan, dalam mengajar hadith, Nabi menggunakan tiga metode, yaitu lisan, tulisan dan peragaan praktis.[2]

  1. Metode Ucapan (Lisan)

Sebagai seorang guru seluruh umat manusia, tentu Nabi berupaya keras agar ajaran yang beliau sampaikan dapat dipahami, dihayati dan diamalkan. Dengan demikian, ajaran yang telah disampaikan itu tetap otentik dan tidak mudah terlupakan. Oleh karena itu, Nabi biasa mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali. Setelah beliau yakin pelajaran yang disampaikan mampu dipahami dan dihafal oleh para Sahabat, maka beliau berkenan untuk memerintah para Sahabat untuk menirukan ucapannya, sekaligus mendengarkan dan mengoreksinya. DR.Safar ‘Azimillah menjelaskan dalam bukunya bahwa pada waktu itu para Sahabat tidak mendengar dengan keseluruhan hadith yang disampaikan Nabi dalam satu pertemuan dikarenakan masing-masing dari mereka mempunyai kesibukan dan kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.[3] Para Sahabat yang datang dari daerah-daerah terpencil, menjadi tanggung jawab penduduk Madinah, tidak hanya soal akomodasi dan konsumsi, tapi juga pendidikan mereka dalam ilmu al-Qur’an dan al-sunah. Nabi biasa melemparkan pertanyaan untuk mengetahui, sejauh mana pengetahuan mereka. Hal ini dilakukan oleh Nabi dalam rangka memudahkan para Sahabat belajar dan memperoleh hadith.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengajaran al-Qur’an dan H>>>>>adith dilakukan Nabi dalam dua level besar. Pertama, Nabi mengajar Sahabat yang dekat dan sering bertemu Nabi. Kedua, para Sahabat dan penduduk Madinah mengajarkan ilmu yang telah mereka peroleh dari Nabi kepada Sahabat yang tidak sering bertemu Nabi. Kemudian dalam kesempatan lain Nabi berusaha mengevaluasi dan menilai kemampuan ilmu mereka yang diperoleh dari sabahat yang sering bertemu beliau. Kegiatan ilmiah ini berjalan terus menerus sampai beliau wafat pada 11 H / 632 M.

  1. Metode Tulisan

Gerak diplomasi Rasul untuk mengirim delegasi khusus untuk menyampaikan surat kepada raja dan penguasa dikawasan Timur Tengah pada waktu itu, dan surat beliau kepada para kepala suku dan gubernur muslim dapat dikategorikan sebagai metode penyebaran hadith melalui media tulis. Beberapa surat tersebut sangat panjang dan mengandung berbagai masalah hukum, seperti zakat, jizyah, dan cara-cara ibadah lainya.

Menurut data yang saya ketahui, untuk melakukan kegiatan “diplomasi dan managemen pemerintahan” tersebut, Nabi mengangkat 42 juru tulis yang siap bekerja pada saat diperlukan. Masuk dalam kategori ini yaitu kegiatan imla’ Nabi, para Sahabat seperti Ali> bin Abi> Tha>lib dan Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash.[4] Rasul juga  pernah memerintah agar transkrip khutbahnya dikirim kepada seorang warga Yaman bernama abu Syadi.

Dari data-data tersebut dapat ditegaskan bahwa penyebaran hadith melalui media tulisan dilakukan oleh Rasul secara terencana dan terarah. Oleh karena itu, saya memahami larangan  Rasul untuk menulis hadith seperti laporan Abu Said al-Khudri, yang menyatakan Rasul bersabda : “janganlah anda menulis (sesuatu)  dari saya. Barang siapa yang telah terlanjur menulis, maka hapuslah. Ceritakanlah (segala sesuatu) dari saya; demikian tidak apa-apa”, sebagai larangan penulisan ha>dits yang tidak professional, sebab saat itu dikhawatirkan akan bercampur dengan al-Qur’an.[5]

Ada beberapa keuntungan dari metode ini, yaitu:

  1. Lebih terjaga dan terpeliharanya hadith – hadith Rasulullah S.A.W baik dengan hafalan maupun tulisan. Hadith menjadi terpelihara dari kemusnahan dan pemalsuan. Pada saat itu mulai banyak penghafal hadith yang wafat, umat Islam terpecah belah dalam sekte dan golongan, banyak para pemalsu hadith, sehingga untuk menjaga kemurnian dan keutuhan hadith maka perlulah dibukukan.
  2. Hadith – hadith yang tersebar dalam hafalan para ra>wi dan dalam lembaran-lembaran menjadi terkumpul dan tersusun dalam buku-buku, sehingga semakin memudahkan dalam menjaga dan mempelajarinya, baik mempelajari matan, sanad, dan hal – hal lain yang berkaitan dengan hadith.
  3. Mendorong dan memotifasi lahirnya karya – karya dalam bidang hadith. Dari sini banyak ulama yang menulis buku – buku dalam bidang hadith, baik berbentuk buku-buku matan, sharah, tah}qi>q, takhri>j, ta>rikh, dan lain-lain yang membawa manfaat cukup besar bagi umat.
  4. Metode Peragaan praktis

Sepanjang hidup Rasul SAW, terhitung sejak belaiu menerima wahyu; segala perilaku, ucapan, persetujuan dan peragaan praktisnya dianggap sebagai Ha>dits. Rasul memperagakan cara wudhu, shalat, haji, dan lain-lain.

Dalam setiap segi kehidupan, Rasul memberi pelajaran praktis disertai perintah yang jelas untuk mengikutinya. Misalnya beliau bersabda: “Shalatlah anda seperti saya mempraktekkan shalat”  dan juga beliau bersabda: “Ambillah cara-cara haji anda (manasik) dari cara aku melaksanakan haji”

Dalam menjawab pertanyaan, disamping Rasul menjawab langsung secara lisan (sunnah qawliyah), beliau selau minta kepada si penanya untuk tinggal bersama beliau dan belajar memalui pengamatan terhadap perilaku dan praktik ibadah beliau sehari.

Tataran kenyataan ini dalam metodologi penelitian modern masuk dalam kategori pendekatan campuran antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Suatu model penelitian yang jika dilakukan secara sungguh-sungguh validitasnya sangat meyakinkah dan komprehensif.

B. Strategi Rasul untuk menyebarkan Hadith

  1. Mendirikan Sekolah

Sekolah dalam arti tradisional didirikan begitu Rasul tiba di Madinah. Dengan fokus kebijakan pada pengiriman guru dan khatib ke berbagai wilayah di luar madinah, misalnya ke Adzal Qara pada tahun ke-3 H dan Bir Ma’unah pada tahun ke-4 H, ke Najran, Yaman dan Hadramaut pada tahun ke-9 H.

  1. Penyebaran Informasi

Perhatikan sabda Rasul: “Sampaikan ilmu dariku walaupun satu ayat” .[6] fokus kebijakan senada dapat ditemukan pada khutbah Rasul pada haji wada’: “Hendaknya yang hadir menyampaikan amanat ini kepada yang tidak hadir”.[7] Ini menjadi bukti bahwa tradisi penyebaran informasi tentang perbuatan dan ucapan Nabi merupakan praktek umum sejak awal Islam.

Delegasi yang datang ke Madinah diperintah mengajarkan anggota masyarakatnya, seperti yang terjadi pada diri Malik bin Huwayrith, yang diperintahkan untuk mengemban tugas tersebut oleh Rasul. Ia konsisten melaksanakan tugas ini bahkan selama lama Rasul wafat.[8]

  1. Memberi Motivasi bagi pengajar dan Penuntut Ilmu

Rasul tak hanya memerintahkan untuk mendidik masyarakat, tapi juga disertai penyebutan pahala yang berlipat ganda bagi para pengajar dan penuntut ilmu. Kebijakan ini juga diperkuat dengan ancaman bagi orang yang enggan menyebarkan ilmu.

Perhatikan lima h}adits Nabi ini: Pertama, Belajar dan menuntut ilmu adalah wajib bagi tiap muslim” Kedua, “ orang yang menyembunyikan ilmu dapat dimasukkan ke neraka”. Ketiga, “ Barang siapa menempuh jalan menuju pencapaian ilmu, maka Allah akan memasukkan ke dalam surga, dan para malaikat mengembangkan sayapya, karena senang kepada para penuntut ilmu, serta seluruh penghuni surge dan bumi, bahkan ikan di kedalaman lautan memohonkan ampun untuknya”[9]. Keempat,Nabi bersabda:” Jika anak cucu Adam meninggal, amalnya terputus, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh untuknya”.[10] Kelima, Nabi bersabda: “ Mereka menolak terlibat dalam proses pendidikan akan mendapatkan hukuman yang akan menimpa mereka”.[11]

Dengan begitu para Sahabat pasca Rasul wafat mengambil peran penyebaran hadith-hadith yang tersebar dan pengetahuan para Sahabat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh abu> Hurayrah, Umar, abu Mu>sa al-Asy’a>ri, Ibnu Abbas, Zayd bin Arqa>m, Ibn Buraydah, Ali> bin Abi> Thalib, Ibnu Mas’u>d, dan Abu Said al-Khudri sangat berjasa dalam memotivasi tabiin untuk menghafal al-Sunnah.[12]kedua, dukungan khalifah Umar bin Khattab, menginstruksikan para gubernurnya untuk mengajarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi.[13]Beliau sering mengirim sekian guru ke daerah-daerah untuk mengajar al-Qur’an dan sunnah Nabi.[14]

Ketiga, jasa tokoh khalifah. Hampir seluruh Sahabat yang memiliki pengetahuan tentang hadith Nabi, ikut berjasa dan berperan dalam menyebarkannya, kapan dan dimanapun mereka berasal. Asal kesempatan memungkinkan dan perlu, pasti mereka menyampaikan pengetahuan hadithnya tersebut. Baik mereka yang termotivasi ancaman menyembunyikan ilmu, maupun mereka yang bekerja professional di bidang pengajaran hadith.

25-35 tahun pasca Rasul wafat, Islam menyebar ke Afganistan, Iran, India, Irak, Syiria, Azerbijan, Mesir, Sudan, Ethiopia dan Libiya. Tentu, penyebaran Islam ini tidak lepas dari jasa besar para Sahabat Nabi. Akibatnya, h}adits Nabi pun menyebar seiring dengan menyebarnya Sahabat ke seluruh penjuru dunia Islam. Dengan demikian, para Sahabat yang menetap di Madinah setelah tahun 35 H tinggal sedikit. Ada kemungkinan, ada suatu sunnah yang hanya diketahui oleh Sahabat tertentu, yang akhirnya mereka juga berangkat ke Irak, mesir, Syiria, Iran dan tempat-tempat lain.

Pada umumnya, sebelum para Sahabat itu wafat, mereka menyiapkan para kader “penjaga” h}adits sebagai generasi yang harus menerima amanat memikul tanggung jawab mencatat, menghafal dan menyebarkan sekaligus generasi tabiin inilah yang mengajarkan hadith. Proses ini terjadi secara alami dan terencana menetapkan syarat-syarat belajar hadith, demi menjaga kesucian sunnah Rasul itu dari pemalsuan, dan kontaminasi pemikiran yang sebetulnya tidak otentik berasal dari Rasul SAW.

C. Strategi Sahabat untuk menyebarkan Hadith

Pada masa Sahabat penyebarluasan hadith sangat cepat, ini tampak pada masa Utsman bin Affan, mereka memberikan kemudahan dan kelonggaran kepada para Sahabat untuk menyebarluaskan periwayatan hadith kemana pun mereka mempunyai keinginan. Sesuai dengan keadaan tersebut, dan sangat pentingnya anjuran mengajarkan ilmu kepada kaum muslimin yang baru masuk Islam, para Sahabat termotivasi untuk mengemban amanah tersebut.

Diantara kota-kota yang dkunjungi Sahabat antara lain, yaitu:

  1. Madinah

Di kota ini banyak terdapat Sahabat yang mempunyai keahlian dibidang keagamaan, misalkan Abdullah bin Tsabit.

  1. Makkah

Tidak kalah hebatnya dengan kota Madinah, kota Makkah mempunyai kemajuan sama halnya dengan Madinah. Disana dtunjuk Muadz bin Jabal yang ditunjuk sebagai guru untuk mengajrkan penduduk setempat tentang halal dan haram.

  1. Kufah dan Basrah

Setelah Irak ditaklukkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, para Sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Yazid, Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah Ibn Abbas juga termotivasi untuk menyebarkan hadith Nabi.

Strategi yang digunakan oleh para Sahabat dalam menyampaikan ha>dits Nabi bukan hanya dari mulut ke mulut, yaitu mendengarkan Hadith dari guru, tetapi munculnya gerakan penulisan hadith sehingga mempermudah para praktisi Hadith dalam menyampaikan maupun mendapatkannya. Tradisi ini dilanjutkan oleh para Sahabat dengan mencari Hadith sampai ke tempat yang jauh guna meneliti validitas dari ha>dits yang diperolehnya.

  1. 1.    Gerakan Penulisan Hadith

Dengan motivasi mengemban amanah Nabi, yaitu menyampaikan seluruh ajarannya. Jauh setelah wafat Nabi saw timbul gerakan menulis hadith didorong oleh semangat dan kemauan pribadi, seperti Sa’id bin Jubair (w.95 h) rajin membuat catatan hadith-hadith yang berasal dari Abdullah Ibnu Abbas, Ibnu Syihab membuat notula hadith dari Abd Rahman bin Dzamekhwan. Jauh sebelum mereka, Sahabat  Zubair bin ‘Awwan diketahui menyimpan naskah catatan hadith Nabawi yang ikut musnah saat membumi hanguskan rumah-rumah di kota Makkah bertepatan perlawanan pada Yazid bin Mu’awiyah[15].

Peran aktif pihak pemerintahan dalam merintis pencatatan hadith yang dipelopori oleh Khalifah Umar Ibnu Khatab yang bermula memusyawarahkan rencana itu dengan Sahabat dan berakhir dengan menarik gagasan untuk segera membukukan hadith. Pemerintahan lainnya, seperti Umar bin Abdul Aziz (memerintah 99-101 h) mulai bertindak sebagai sponsor pencatatan  dan pembukuan hadith dengan menugaskan Abu Bakr Ibnu Hazm selaku koordinator pelaksana. Pesan tertulis khalifah mengamanatkan agar koleksi hafalan hadith yang dimiliki oleh ‘Amrah binti Abdul Rahman Al-Anshari dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar diprioritaskan.[16]

Himbauan Umar bin Abdul Aziz yang diamanatkan ke seluruh pelosok negeri Islam baru terpenuhi antara lain oleh Muhammad bin Abdul Aziz mencerminkan konsensus umat mengenai pentingnya upaya kembali mencatat dalam mengkodifikasikan hadith. Demikian analisis pengamatan Al-Hafisz Ibnu Hajar al-Asqalani sebagaimana yang dikutip oleh Hasjim Abbas.

Hipotesa kerja yang melandasi program pencatatan dan pembukuan hadith, sebagai berikut:

  1. Wilayah territorial Islam dan keadaan umat Islam semakin luas telah mengundang tanggung jawab meneruskan informasi ajaran Nabi ke segenap penjuru dunia.
  2. Sahabat Nabi berangsur-angsur meninggal, ulama generasi berikutnya telah menyebar ke berbagai wilayah dan pengikut mereka bertebaran. Kondisi kecermatan hafalan mereka tidak setangguh generasi Sahabat, sebab mereka berasal dari bermacam-macam suku bangsa.
  3. Umat Islam telah dilanda penyebaran ajaran bid’ah, gerakan penentang ajaran, fanatik politik dan ambisi kedudukan telah menimbulkan perilaku buruk terhadap hadith ( muncul hadith palsu / mawd}u’ dalam skala besar).

Gelombang penulisan dan pembukuan hadith periode berikutnya dilakukan atas prakarsa individu ulama muhaddithin, antara lain: Ibnu al-Auza’I, Sufyan al-Thauri, Imam Malik, Muhammad Ibnu Ishaq, Abdullah bin Mubarak dan laits bin Sa’ad. Memperhatikan kecenderungan umum ulama hadith dalam menghimpun koleksi hadith, mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

  1. Memudahkan usaha menghafal hadith dan menyimpulkan hukum. Tujuan tersebut tampak pada penyusunan kitab koleksi hadith dengan sistematika musnad, yakni urutan letak hadith atas dasar nama Sahabat yang meriwayatkannya.
  2. Memperkenalkan pokok ajaran Islam yang menjadi topik bahasan suatu hadith. Tujuan tersebut melatarbelakangi koleksi hadith dalam bentuk kitab sunan. Hal tersebut terbukti dengan tata letak hadith mencontoh tata bab-bab dalam kitab fiqih dan setiap unit hadith selalau dilengkapi dengan judul bertumpu pada aspek kandungan pokok ajaran hadith yang bersangkutan.
  3. Menyajikan ulasan terhadap kosa kata yang terdapat dalam struktur bahasa matan. Sejalan dengan tujuan tersebut, maka yang dipentingkan hanyalah penyajian matan hadith untuk obyek kupasan atas kata-kata gharib ( asing dalam pemakaian komunikasi sehari-hari) dan kupasan atas susunan kalimatnya.

D. Latar Belakang Perbedaan Jumlah Hadith Yang Diterima Sahabat

Sahabat dalam arti etimologi adalah Sahabat (musyta>q) pecahan dari kata shubhah yang berarti orang yang menemani.[17] Secara arti terminologi Muhammad Mahmud Abu Zahwu menjelaskan dalam al-hadith wa al-muhadithun nya, menjelaskan bahwa Sahabat adalah orang yang bertemu Nabi, beriman kepada ajaran Nabi, dan meninggal dalam keadaan Islam.[18] Ada juga pendapat lain mengatakan bisa dinamakan Sahabat jika dia berguru langsung kepada Nabi ataupun mendapatkan pelajaran dari Sahabat yang mendengarnya.

Ahmad bin hambal mengatakan bahwa Sahabat Rasul adalah orang yang pernah hidup bersama beliau, sesaat atau sehari bertemu beliau.[19]Imam Bukhari mangatakan bahwa yang dinamakan Sahabat apabila dia hidup bersama Nabi dan meninggal dalam keadaan Islam. Mayoritas ulama mengatakan bahwa Sahabat adalah seseorang yang tetap dalam keadaan beriman dan pernah hidup bersama Nabi.[20]

Dari data tersebut dapat ditarik benang merah, jadi yang dinamakan Sahabat adalah pertama, ia pernah bertemu dengan Rasulullah, kedua, dalam keadaan beriman dan Islam sampai meninggal dunia.[21] Dengan demikian, mereka yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah atau pernah bertemu dengan Nabi tetapi tidak dalam keadaan Islam dan beriman, maka ia tidak disebut dengan Sahabat.

Beberapa para Sahabat yang mempunyai urgensi dan dianggap banyak meriwayatkan hadith, yaitu:

  1. Abu Hurairah

Dia bernama Abdu Rahman bin Shahr biasanya dikenal dengan Abu Hurairah. Dia adalah Sahabat yang paling banyak meriwatkan ha>dits dan Sahabat yang paling kuat hafalannya. Sebagaimana Nabi pernah meng amini doa yang yang diminta langsung oleh Abu Hurairah agar dia dijauhkan dari sifat lupa terhadap ilmu-ilmu yang telah didapatnya dari Nabi. Bahkan ibn Umar menyaksikan pada saat Abu Hurairah wafat bahwasanya Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal Hadith Nabi.  Hadith yang diriyatkan oleh Abu Hurairah ada 5374.[22]

  1. Ibnu Umar,

Periwayatan paling banyak berikutnya adalah Abdullah bin Umar, ia meriwayatkan 2.630 hadith. Abdullah adalah putra khalifah kedua yaitu Umar bin Khatab dan saudara kandung Sayyidah Hafshah ummul mukminin. Ia adalah salah seorang diantara orang-orang yang bernama Abdullah  (Al-Abdillah al-Arba’ah) yang terkenal dengan pemberi fatwa. Ibnu Umar dilahirkan tidak lama sesudah Nabi diutus dan meninggal pada tahun 73 H. Dia termasuk sahabat yang banyak mengikuti perang seperti perang Uhud, Qadisiyah, Yamuk, Penaklukkan Afrika, Mesir dan Persia serta penyerbuah Basrah. Ia meriwayatkan Hadith dari Abu Bakar, Uthman, Sayyidah ‘Aisyah, Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar diantaranya Said bin al-Musayyab, al-Hasan Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirrin, Nafi’ dan lainnya.

  1. Anas bin Malik, 2.263 hadith.

Anas bin Malik adalah urutan ketiga dari Sahabat yang banyak meriwayatkan Hadith. Anas adalah Khadam (pelayan) Rasulullah yang terpercaya. Ketika ia berusia sepuluh tahun, ibunya yaitu Ummu Salaiman, membawanya kepada Rasulullah untuk berkhidmat. Anas wafat pada tahun 93 H.

  1. ‘Aisyah binti Abu Bakar

Dia bernama ‘Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq yaitu salah satu isteri Nabi. ‘Aisyah menikah ketika berumur 9 tahun di bulan syawal 1 Hijiriyah. Dia adalah salah satu orang yang mempunyai peran penting dalam Hadith, Hadith yang diriwayatkan sejumlah 2210. Hal ini memungkinkan, karena ‘Aisyah adalah orang yang cerdas, tidak mempunyai anak sehingga tidak disibukkan dengan mengasuh dan merawat dan dia wafat kurang lebih 48 tahun setelah hijrah.[23]

  1. Abdullah bin Abbas, 1.660 hadith

Abdullah adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan Hadith sesudah sayyidah ‘Aisyah. Dia adalah putra paman Rasulullah yaitu Al-abbas bin Abdul Muthalib dan ibunya yang bernama Ummul Fadl Lubabah binti al-Harits – saudara dari Ummul Mukminin Maimunah. Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah. Dia satu-satunya sahabat yang mendapatkan doa Rasulullah agar menjadi pakar takwil (tafsir). Selain itu Abdullah adalah seorang pakar fiqh yang terkenal. Ia wafat pada tahun 68 H karena penyakit mata.

  1. Ja>bir bin ‘Abddullah

Dia bernama Jabir bin Abdullah bin ’Amr bin Harm al-Ansh>ari. Jabir adalah Sahabat yang tekun dalam memperoleh Hadith dari Nabi dengan kekuatan hafalan dan tulisannya. Hal ini dibuktikan dari jumlah Hadith yang diriwayatkanya yaitu 1540 Hadith.[24]

  1. Abu Sa’id al-Khudri, 1.170 hadith

Abu Sa’id al-Khudri adalah orang ketujuh yang banyak meriwayatkan Hadith, ia meriwayatkan 1.170 Hadith. Abu sa’id lebih dikenal dengan kuniah nya Abu Sa’id. Nama aslinya adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan. Ayahnya bernama Malik bin Sinan yang gugur pada perang Uhud. Ia seorang Khudri yang sanadnya bersambung dengan Khudrah bin Auf bin Harits. Abu Sa’id al-Khudri adalah salah satu Sahabat yang melakukan bai’at kepada Rasulullah yang berikrarkan tidak akan tergoyah demi memperjuangkan agama Allah. Ia wafat pada tahun 74 H.

Dalam Kitab Thabaqat  Ibnu Sa’ad sesuai yang dikutip oleh Subkhi Soleh hanya mengelompokkan dalam lima thabaqat[25]. Setelah diteliti, jumlahnya meningkat menjadi 12 thabaqat Sahabat menurut urutan yang lebih dahulu memeluk Islam, hijrah, dan mengikuti perang, diantaranya sebagai berikut:[26]

  1. Mereka yang lebih dulu masuk Islam, yaitu orang-orang uang beriman di Makkah, seperti halnya sepuluh Sahabat yang mendapat kabar gembira akan masuk surga.
  2. Anggota Dar an-Nadwah yang memeluk Islam sesudah Umar masuk Islam.
  3. Para Sahabat yang hijrah ke Habsyah pada tahun kelima sesudah Rasulullah diutus. Mereka terdiri dari 11 laki-laki dan 4 wanita. Diantara mereka adalah Uthman bin Affan, Zubair bin Al-‘Awwan, Ruqayyah (isteri Uthman bin Affan dan putrid Nabi), Sahlah binti Sahl (isteri Abu Hudzaifah). Sejajar dengan kelompok ini yaitu para Sahabat yang melakukan hijrah kedua ke Habsyah. Jumlahnya sekitar 83 orang, diantaranya Ja’far bin Abi Thalib dan isterinya Asma’ binti Umais, Abdullah bin Jahsy, Ummu Habibah (isteri Ubaidullah), Abdullah (saudara Ubaidullah), Abu Musa dan Ibnu Mas’ud.
  4. Pengikut perjanjian ‘Aqabah pertama. Meraka adalah 12 Sahabat Anshar. Diantaranya adalah Jabir bin Abdullah, Uqbah bin Amir, As’ad bin Zurarah, dan Ubadah bin as-Shamit.
  5. Pengikut perjanjian ‘Aqabah kedua. Mereka terdiri dari 70 Sahabat Anshar disertai dua orang wanita, diantaranya termasuk Al-Barra’ bin Ma’rur, Sa’ad bin Ubadah, dan Ka’ab bin Malik.
  6. Para Sahabat Muhajirin yang sampai ke Madinah, ketika Nabi saw masih berada di Quba, menjelang memasuki Madinah.
  7. Para pengikut perang Badar.
  8. Para Sahabat yang hijrah diantara peristiwa Perang Badar dan Hudaibiyah.
  9. Para Sahabat yang menaklukkan bai’at di bawah pohon Hudaibiyah.
  10. Para Sahabat yang berhijrah sebelum penaklukkan Makkah dan sesudah peristiwa Hudaibiyah, diataranya termasuk Khalid bin al-Walid.
  11. Para Sahabat yang memeluk Islam pada saat penaklukkan Makkah. Jumlahnya lebih dari seribu orang, diantaranya termasuk Mu’awiyyah bin Harb dan Hakim bin Hizam.
  12. Anak-anak yang melihat Nabi saw pada hari penaklukkan Makkah dan Haji Wada’. Diantaranya dua putra Ali yaitu Hasan dan Husain, As-Sa’ib bin Yazid al-Kalabi, dan Abdullah bin az-Zubair.

Dari data tersebut bisa dijelaskan bahwa perbedaan jumlah Hadith yang diterima para Sahabat disebabkan:

  1. Sebagian para Sahabat yang memiliki kesibukan dalam memimpin sebuah khilafah atau yang lebih dikenal dengan pemerintahan seperti halnya Abu Bakr as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah dan Zubair. Sedangkan yang paling banyak masih dipegang oleh Abu Hurairah, sayyidah ‘Aisyah, Ibn Umar dan lainya dikarenakan mereka tekun, jeli dalam penulisan serta kuat hafalannya dan tidak mempunyai kesibukan apapun selain belajar dan memperoleh hadith dari Nabi. Bahkan ada dari mereka menemani dalam keseharian Nabi, sehingga secara mudah dan terencana apakah Hadith tersebut berupa perkataan, perbuatan maupun bentuk peragaan praktis langsung dicernanya. Dari ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sesuatu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan.
  2. Dengan adanya pertanyaan dan permasalahan baru dari manusia sehingga para Sahabat yang tekun termotivasi untuk mencari dan mendapatkan ha>dits yang langsung disampaikan oleh Nabi.
  3. Sebagian dari Sahabat mempunyai kesibukan membuka link keluar kota untuk memperluas daerah kekuasaan seperti halnya Abdullah bin Umar yang mempunyai tugas  tersebut.
  4. Perbedaan pencatatan pada masa Rasul disebabkan karena sedikitnya sarana penulisan meskipun ini bukan penyebab perbedaan penerimaan sahabat dalam menerima hadith, tetapi salah satu indikasi.[27]
  5. Sebagian sahabat mendengar hadith dari Rasulullah saw dan mengamalkannya, akan tetapi tidak merasa perlu mencatatnya.
  6. Sebagian sahabat hanya sanggup mencatat sedikit, sementara sisanya disibukkan oleh pencatatan al-Qur’an.

Dengan demikian, perbedaan jumlah Hadith yang diterima para sahabat, disebabkan mereka tidak fokus dalam belajar dan memperoleh Hadith yang disampaikan Rasul dan beberapa faktor yang mendorong mereka dalam memperluas kekuasaan demi menyerukan dakwah agama Allah yakni Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Berangkat dari paparan makalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa :

  1. Dalam memyampaikan Hadith, Nabi menggunakan tiga metode yaitu metode lisan, metode tulisan, dan metode peragaan praktis.
  2. Perbedaan jumlah Hadith yang diperoleh para Sahabat disebabkan oleh banyak atau tidaknya bertemunya mereka dengan Nabi.

DAFTAR PUSTAKA

 

‘Azmillah, DR.Safar, Maqa>bisi an-naqd Mutuni as-sunnah, (Riyadh: Saudi Arabia, 1984)

Abu Zahwu, Muhammad Abu Zahwi, Al-Ha>dits wa Al-Muhadditsun, (Mesir: Maktabah al-Misriyah, 1987).

Al-Haytami, Majma’al-Z}awa>id, (Cairo: Qudsi, 1956)

Al-Khatib Al-Ajjaj, As-sunnah qabla at-Tadwin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981)

At-Tahhan, DR. Mahmud, Ushu>l al-Takhrij wa Dirasah al-Asa>nid.Terj. Imam Ghazali Sa’id, (Surabaya: Diantama, 2007)

Azamai, MM, Studies in Early Hadith Literatre, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, 1991)

Bin H}anbal , Ah}mad, al-Musnad, tp, 1313

Bukha>ri, al-Jami’ al-Shah}ih}, ( Riyadh: Maktabah Ma’arif, 1991)

Dewan Redaksi, Enslikopedia Islam, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002)

Ibnu Sa’ad, al-Thabaqa>t al-Kubr>a, (ed.Schan, Leiden, 1940) 

Muslim, Shah}ih} Muslim, dalam Mausu’ah al-H}adits, (Riyadh: Dar al-sala>m, 2000)

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, (Jakarta:Mutiara sumber mulia, 2003)

Said, Imam Ghazali, Perjalanan Haji Rasul, 2005

Soleh, DR.Subhki, Membahas Ilmu Hadith, (Jakarta: IKAPI, 2009)

SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS PADA MASA RASUL DAN SAHABAT

 

 

Makalah ini  disusun untuk pemenuhan tugas mata kuliah

Studi Hadith

 

 

 

HJHJ

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. H. Burhan Djamaluddin, MA

Oleh:

Abdul Basid

F 054 111 85

PROGRAM PASCASARJANA

KONSENTRASI TAFSIR HADITH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2011


[1] Syaikh Muhammad Abdul ‘Aziz, Tarikh fununul Hadits an-Nabawiyah, (Ummul Qura’: Darul Ibnu Katsir, 1984) hal.16

[2] DR. Mahmud at-Tahhan, Ushu>l al-Takhrij wa Dirasah al-Asa>nid.Terj. Imam Ghazali Sa’id, (Surabaya: diantama, 2007) xxv

[3]  DR.Safar ‘Azmillah, Maqa>bisi an-naqd Mutuni as-sunnah, (Riyadh: Saudi Arabia, 1984) hal. 11

[4] DR. Mahmud at-Tahhan …xxvi

[5] Ibid, hal xxvii.

[6] Bukha>ri, ‘Ilm, 9

[7] Said, Imam Ghazali, Perjalanan Haji Rasul, 2005,100

[8] Ibnu Sa’ad, al-Thabaqa>t al-Kubr>a, (ed.Schan, Leiden, 1940)  29-30

[9] Ah}mad bin H}anbal, Musnad V, 196

[10] Muslim, Washiyah, 14

[11] Al-Haytami, Majma’al-Z}awa>id, 164

[12] Ibnu Hajar, al-Isha>bah, 332

[13] Azamai, Studies, 184

[14] Ibnu Sa’ad, III, 201, 243 dan Ibnu Hanbal, Musnad, I, 48

[15]  Hasjim Abbas, Kodifikasi Hadith Dalam Kitab Mu’tabar, (Surabaya: Fak Ushuluddin, 2003), hal.18.

[16]  Ibid, hal.19.

[17] Al-Ajjaj Al-Khatib, As-sunnah qabla at-Tadwin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981). h.197.

[18] Muhammad Abu Zahwu, Al-Ha>dits wa Al-Muhadditsun, (Mesir: Maktabah al-Misriyah, 1987) ,h.129.

[19] Dewan Redaksi, Enslikopedia Islam, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h.197.

[20] Ibid,.198.

[21] Nawir Yuslem, Ulumul Ha>dis, (Jakarta:Mutiara sumber mulia, 2003), h.109.

[22] Ibid,. 132-133

[23] Ibid, .hal. 138

[24] Ibid,. 135

[25]Thabaqat adalah sekumpulan orang yang sebaya dalam usia dan dalam menemukan guru.(lihat) Subkhi soleh Membahas Ilmu Hadis hal.323.

[26] DR.Subhki Soleh, Membahas Ilmu Hadith, (Jakarta: IKAPI, 2009) hal.328-330.

[27]  Subkhi Soleh, Membahas Ilmu Hadith…hal.34