ABSTRAKSI

Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang berhasrat mempelajarinya. Seorang guru tasawuf biasanya memformulasikan suatu sistem pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem pengajaran itulah yang kemidian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat yang membedakannya dari tarekat yang lain. Tarekat adalah organisai dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Maka timbullah tarekat. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebbut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

Pendahuluan

Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkirisudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup, dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini.

Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub, mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.

Kenyataan dalam sejarah juga menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di dalam karya ilmiah ini, penulis memfokuskan pada Tarikat An-Naqsabandiyah.

 

 

 

BAB II

Studi Kritis Tarekat Naqsabandiyah

 

A. Pendiri Tarekat Naqsabandiyah

Pendiri tarekat Naqsabandiyah adalah seorang pemuka tasawuf terkenal yakni, Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsabandi (717  – 791 H / 1318 – 1389 M), dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah, kurang lebih 4 mil dari Bukhara tempat lahir Imam Bukhari. Ia berasal dari keluarga dan lingkungan yang baik. Ia mendapat gelar Syah yang menunjukkan posisinya yang penting sebagai seorang pemimpin spiritual. Ia belajar ilmu tasawuf kepada Baba al-Syamasi ketika berumur 18 tahun. Kemudian ia belajar ilmu tarekat pada Qutb di Nafas, yaitu Amir sayyid Kulal al-Bukhari  (w.772 / 1371). Kulal adalah seorang Khalifah Muhammad Baba al-Samasi.[1] Dari kulal inilah ia pertama belajar tarekat yang didirikannya.

Selain itu Naqsabandi pernah juga belajar pada seorang arif bernama al-Dikkirani selama satu tahun. Ketika sang penguasa digulingkan pada tahun 748 H / 1347 M, ia pergi ke zirwatun untuk mengembala binatang ternak. Hal ini dilakukan sebagai pembinaan mistisnya untuk memperdalam sumber-sumber kasih sayang dan cinta kepada sesame manusia serta membangkitkan perasaan pengabdian dalam memasuki lingkungan mistis.[2]

Pendidikan Naqsabandi dari kedua guru utamanya, yakni Baba al-Samasi dan Amir Kulal, membuatnya mendapat amanah sebagai pewaris tradisi Khawajagan[3]. Dikampung halamannya, ia mempunyai sepetak tanah yang dikelola orang lain. Berkait dengan jalan misti yang ditempuhnya, Naqsabandi mengatakan bahwa ia berpegang teguh pada jalan yang ditempuh Nabi dan para sahabatnya, ia mengatakan bahwa sangatlah mudah mencapai puncak pengetahuan tertinggi tentang tauh}id, tetapi sangat sulit mencapai makrifat yang menunjukkan perbedaan halus antara pengetahuan dan pengalaman spiritual.

B. Penyebaran Naqsabandiyah

Tarekat Naqsabandiyah adalah sebuah tarekat yang mempunyai dampak dan pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Di Asia Tengahbukan hanya di kota-kota penting, melainkan di kampung-kampung kecil tarekat ini mempunyai padepokan sufi dan rumah peristirahatan naqsabandi sebagai tempat berlangsungnya aktifitas keagamaan.[4]

Ciri Tarekat Naqsabandiyah

  1. Mengikuti syariat secara khusus, keseriusan dalam beribadah.
  2. Menolak terhadap musik dan tari.
  3. Lebih menyukai berdzikir dalam hati.
  4. Mendekatkan Negara pada Agama.
  5. Mengubah pandangan penguasa tentang politik praktis.

Baha’ al-Din Naqsabandi sebagai pendiri tarekat ini, dalam menjalankan aktifitas dan penyebaran tarekatnya mempunyai 3 orang, yakni Ya’qub Carkhi, ‘Ala> al-Din Aththar dan Muhammad Parsa. Masing-masing dari mereka mempunyai seseorang yang dipercaya untuk melanjutkan, misalnya Ya’qub Carkhi mempunyai murid yang bernama Khwaja ‘Ubaidillah A}hra>r ( 806 H-896 ). Dia juga mempunyai peran penting membuka link dengan kalangan istana, dalam hal ini pangeran Abu Sa’id sebagai penguasa dinasti Timurid di Herat sebuah kota  di Negara Afganistan.[5]

Sebagai kompensasi atas dukungan politiknya kepada Abu Sa’id, ‘Ubaidillah mendapat kekuasaan  politik yang luas jangkauannya. Karena situasi dan pengaruh yang besar dari ‘Ubaidillah, kemudian Tarekat Naqsabandiyah ini pertama kali menyebar ke luar Asia Tengah, ia mengangkat beberapa murid untuk diutus ke negeri Islam lain seperti Qazwin, Isfahan dan Tabriz di Iran, dan bahkan sampai ke Istanbul.[6]

Tokoh lain yang juga mempunyai peran dalam penyebaran tarekat ini adalah Sa’id al-Din Kashghari. Ia bertempat tinggal di Herat ibu kota kekaisaran Timurid (sekarang kota besar di Afganistan), ia telah membaiat penyair dan ulama besar ‘Abd al-Rah}m>an Jami, yang berjasa mempopulerkan tarekat ini di lingkungan istana dan menyebar ke selatan

Abd Rahman Jami’ (827-829 H), setelah menyelesaikan pendidikannya dalam bidang kajian tradisional, kemudian ia bergabung dengan disiplin Kasyghari selama beberapa tahun dan menyerahkan diri pada pertobatan dibawah pengawasannya. kontr ibusi jami’ pada tasawuf adalah paparannya tentang pemikiran Ibnu Arabi yang mmenguraikan beberapa konsep mengenai kesatuan wujud. Syair-syairnya banyak membantu dalam menyebarkan segenap konsep kesatuan  wujud.[7]

Penyebaran tarekat Naqsabandiyah kemudian memasuki wilayah India (yang kemudian berpengaruh ke wilayah Indonesia), sekitar abad 10/16atau tepatnya pada tahun 1526. Tahun ini bertepatan ditaklukkan Indian oleh Babur, pendiri kekaisaran Moghul. Kaisar sendiri adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah dan para tentaranya. Beberapa khalifah ‘Ubaidillah Ahr>ar (w.1490), mengikut sertakan pasukan penakluknya ke India, dan sepanjang abad itu telah terjadi gelombang perpindahan kaum Naqsyabandiyah Asia Tengah ke India.

Diantara syaikh-syaikh Naqsabandi yang datang ke India adalah Baqi Billah (971-1012 H/1563-1603 M). dia dilahirkan di Kabul tahun 1564 dan telah belajar ke beberapa tokoh Naqsabandi sebelum ia bermukim di India. Hampir semua pengikut Naqsabandi diseluruh dunia dewasa ini menarik garis keturunan spiritual mereka melalui Baqi Billah dan khalifahnya Ahmad Sirhindi karena mereka telah membawa benih kesuciannya dalam tarekat Naqsabandiyah dari Samarkand dan Bukhara dan meyemaikannya di tanah India. Dalam jangka waktu yang singkat yakni lima tahun, mereka mampu memberikan dan menyampaikan pesan silsilah kepada para ulama, kaum sufi dan para pejabat tinggi.[8]

Perluasan dan aktifitas Tarekat Naqsabandiyah di India mendapat dorongan yang sangat tinggi dibawah kepemimpinan Sirhindi (972-1033 H/1564-1624 M) yang dikenal sebagai Mujtahid Alfi Tsani (Pembaharu millennium kedua, w.1642), pada akhir abad kedelapan  belas nama syaikh Sirhandi hampir disamakan dengan tarekat naqsabandiyah  di seluruh Asia selatan, wilayah ‘Utsmaniyah dan sebagian besar Asia tengah. Posisi sirhandi cukup unik dalam sejarah intelektual Tarekat Naqsandiyah, sekalipun mengikuti prinsip-prinsip dasar dan fundamental tarekat ini, ia memberikan orientasi baru dalam doktrin-doktrinnya dalam membuang doktrin tentang kesatuan wujud yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi dan diterima oleh hampir semua Syaikh Naqsabandiyah, seperti Baha’ al-Din, Ubaidillah Abrar, dan Maulanna Jami’.[9] Ahmad Sirhandi seperti para syaikh Naqsabandi terdahulu di Asia Tengah, menuntut murid-muridnya agar berpegang secara cermat pada al-Qur’an dan tradisi-tradisi Nabi (Sunnah).

Ketika Sirhandi berhasil mengukuhkan dirinya sebagai penerus khanaqah baqi Billah di Delhi, Taj al-Din seorang khalifah Baqi Billah yang dianggap saingannya dalam membela wahdat al-wuju, dengan kecewa meninggalkan Delhi kemudian menetap di Makkah.  Di sana seorang sufi yang cukup mashur, Ahmad  Ibn Ujail dan Muhammad Abd Baqi Muhammad adalah pembimbing Yusuf Makassari yang tercatat sebagai orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsandiyah di nusantara[10]

C. Dari Bukhara ke Nusantara

Dalam perkembangan dan penyebaran dinusantara, Tarekat Naqsandiyah mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan antara lain, gerakan pembaharuan dan politik. Penaklukkan Mekkah pada tahun 1924, berakibat besar terhambatnya perkembangan Tarekat Naqsandiyah. Karena sejak saat itu kepemimpinan Mekkah dipimpin oleh kaum wahabi yang mempunyai pandangan buruk terhadap tarekat. Sejak saat itu tertutuplah kemungkinan untuk mengajarkan tarekat di Makkah bagi jamaah haji khususnya dari Indonesia yang dari setiap generasi banyak dari mereka masuk tarekat.[11]

Syaikh Yusuf Makassari (1626-1699) merupakan orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsandiyah di nusantara. Seperti disebutkan dalam bukunya “Safinah an-Najah” , ia menerima ijasah dari syaikh Muhammad abd Baqi’ di Yaman kemudian mempelajari tarekat ketika berada di Madinah di bawah bimbingan syaikh Ibrahim al-Kurani. Syaikh Yusuf berasal dari kerajaan Islam Gowa, sebuah kerajaan kecil di Sulawesi selatan, dan ia mempunyai pertalian darah dengan keluarga kerajaan di daerah itu. Ia dilahirkan di Makassar pada tahun 1626 M. pada tahun 1644 dalam usia yang relative muda ia pergi ke Yaman dan diteruskan ke Makkah lalu Madinah untuk menuntut ilmu dan naik haji. Pada tahu 1672 ia kembali ke Indonesia, namun situasi politik di Makassar pada watu itu menyebabkan ia mengurungkan niat untuk pulang ke kota kelahirannya, dan memilih untuk menetap di Banten sebagai pusat pendidikan Islam yang menarik para pelajar untuk berdatangan ke sana dari segala penjuru Nusantara.[12]

Mungkin saja syaikh Yusuf bukan orang pertama yang menganut Tarekat Naqsandiyah di Indonesia. Namun ia adalah orang pertama yang menulis tentang tarekat ini, sehingga kemudian ia dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsandiyah di Indonesia. Ia menulis berbagai risalah mengenai tasawuf dan menulis nasihat-nasihat kerohanian untuk orang-orang penting misalnya, pemimpin lasykar kerajaan Gowa. Kebanyakan risalah dan surah-surah yang sudah pasti ditulis oleh Syaikh Yusuf ditulis dalam bahasa Arab dan lainnya ditulis dalam bahasa bugis.

Di Madura Tarekat Naqsandiyah sudah lahir sejak akhir abad kesembilan belas. Para penganutnya tidak mempunyai hubungan langsung dengan penganut jawa, karena orang Madura mengikuti cabang yang lain dari Tarekat ini. Tarekat Naqsandiyah sekarang ini merupakan tarekat yang paling berpengaruh di Madura dan beberapa tempat lain yang banyak penduduknya berasal dari Madura, seperti Surabaya, Jakarta, dan Kalimantan Barat. Sejumlah Mursyid di Madura tampaknya telah menetapkan semacam kepemimpinan bersama dalam Tarekat, secara kolektif melayani masyarakat pengikut yang sama.[13]

Tiga Syaik Madura, hampir semuanya berasal dari Sampang, secara bergiliran mengunjungi masyarakat Madura di Kalimantan Barat, dan berhasil membai’at sejumlah pengikut baru. Sejumlah masjid besar kepunyaan orang Madura dikunjungi syaikh. Dan sebagian mereka menganggap syaikh ini sebagai mursyid. Fath al-Bari adalah orang yang pertama kali yang mengunjungi masyarakat Madura di Kalimantan Barat.

Terdapat keunikan lain dari Tarekat Naqsandiyah di Madura, yang tidak dijumpai di antara penganut  Tarekat Naqsandiyah di Indonesia dan negeri-negeri lain. Yakni beberapa mursyidnya adalah adalah perempuan. Mereka tidak hanya bertindak sebagai asisten dari para suami yang lebih dominan, tetapi mereka benar-benar mandiri. Kasus di Madura, misalnya Nyai Thobibah, ia mendapat ijasah penuh dari Ali Wafa. Syarifah Fathimah di Sumenep adalah mursyid perempuan lain yang mempunyai pengikut yang sangat banyak di Malang Selatan dan Kalimantan Barat. Hal ini menunjukkan bahwa Tarekat Naqsandiyah mempunyai pengikut yang cukup banyak dari kaum perempuan Madura. Barangkali kehadiran para mursyidah tersebut menunjukkan toleransi orang Madura yang lebih besar terhadap kepemimpinan perempuan, meskipun terbatas di kalangan mereka sendiri. Penyebaran Tarekat Naqsandiyah juga terjadi di Minagkabau, Jawa Tengah, Rembang, Blora, banyumas, Purwokerto, Cirebon, Jawa Timur bagian Utara, Kediri dan Blitar.[14]

Tarekat ini tersebar hampir ke seluruh provinsi yang ada ditanah air, yakni sampai ke jawa, Sulawesi Selatan, Lombok, Madura, Kalimantan Selatan, Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan Barat, dan daerah-dareh lain. Inilah satu-satunya tarekat yang terwakili di semua provinsi yang berpenduduk mayoritas muslim. Penyebaran tarekat yang sedemikian luas dan diterima oleh orang-orang awam dari latar belakang, menyebabkan timbulnya variasi vokal, yang merupakan bagian tarekat ini. Walaupun demikian Tarekat Naqsandiyah masih tetap mempertahankan watak khasnya. Pengikut Tarekat Naqsandiyah terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, berstatus sosial rendah sampai lapisan menengah dan lapisan yang lebih tinggi.

D. Teknik Dan Ritual Tarekat Naqsabandiyah

Tarekat Naqsandiyah, seperti juga tarekat yang lainnya mempunyai tata cara ritual tersendiri, sebagai berikut:[15]

  1. Husy dar dam, “sadar diwaktu bernafas” suatu latihan dimana seseorang harus  menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah. Hal ini dikarenaka setiap keluar masuk nafas yang hadir beserta Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih dekat kepada Allah. karena kalau orang lupa dan kurang perhatian berarti kematian spiritual dan mengakibatkan orang akan jauh dari Allah.
  2. Nadzar bar qadam, “menjaga langkah” seorang murid yang sedang menjalani khalwat suluk , bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki. Dan apabila duduk, tidak memandang ke kiri atau ke kanan. Sebab memandang kepada keaneka ragaman ukiran dan warna dapat melalaikan orang lain dari mengingat Allah, selain itu juga supaya tujuan-tujuan yang (rohaninya) tidak dikacaukan oleh segala hal yang berada di sekelilingnya yang tidak relevan.
  3. Safar dar wathan, “ melakukan perjalanannya di tanah kelahiran”, maknanya adalah melakukan perjalanan batin dengan meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akibat hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. Atau maknanya adalah berpindah dari sifat-sifat manusia yang rendah kepada sifat-sifat malaikat yang terpuji.
  4. Khalwat dar anjuman,” sepi di tengah keramaian”, khalwat bermakna menyepinya seorang murid, sementara anjumandapat berarti perkumpulan tertentu. Berkhalwat terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
    1. a.       Khalwat lahir, yaitu orang yang bersuluk mengasingkan diri ke sebuah tempat tersisih dari masyarakat.
    2. b.      Khalwat batin, yaitu mata hati menyaksikan rahasia kebesaran Allah dalam pergaulan sesame makhluk.
  5. Yad krad,”ingat atau menyebut” ialah berdzikir terus-menerus mengingat Allah, baik zikir ism al-dzat (menyebut Allah), maupun dzikir naïf itsbat (menyebut La ila>ha Illa> Allah). bagi kaum Naqsabandiyah zikir itu tidak terbatas dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian sesudah shalat, tetapi terus-menerus supaya di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.
  6. Ba>z Ghust, “kembali “, memperbaharui”. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan hati agar tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang. Sesudah menghela nafas, orang yang berzikir itu kembali bermunajat dengan mengucapkan kalimat yang mulia ilahi> anta maqshudi> wa ridhaka mathlubi>.( ya tuhanku, engkaulah tempatku memohon dan keridhaanMu lah yang ku harapkan). Sewaktu mengucapkan zikir, makna dari kalimat ini harus selalu berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang paling halus kepada Allah semata.
  7. Niga>h Dasyt,” waspada”. Ialah setiap murid harus menjaga hati, pikiran, dan perasaan dari sesuatu walapun sekejap seketika melakukan zikir tauhid. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari   kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memelihara pikiran dari perilaku agar sesuai dengan makna dzikir tersebut.
  8. Ya>d dasyt,”mengingat kembali” adalah tawajuh (menghadapkan diri) kepada nur dzat Allah, tanpa kata-kata. Pada hakikatnya menghadapkan diri dan mencurahkan perhatian kepada nur dzat Allah tiada lurus, kecuali sesudah Jana>’ (hilang kesadaran) yang sempurna. Tampaknya hal ini semula dikaitkan pada pengalaman langsung kesatuan dengan yang ada (wahdat al-wujud) .

E. Zikir

Titik berat amalan penganut Tarekat Naqsandiyah adalah zikir. Zikir adalah berulang-ulang menyebut nama Allah atau menyatakan kalimat La ila>ha Illa> Allah dengan tujuan untuk mencapai kesadaran akan Allah. para penganut Naqsabandiyah lebih sering melakukan zikir sendiri, tetapi bagi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan dengan syaikh cenderung iktu serta secara teratur dalam pertemuan dimana majlis zikir dilakukan. Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dua macam zikir, yaitu:[16]

  1. Zikir Ism al-dzat, artinya mengingat nama yang Haqiqi dengan mengucapkan nama Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali sambil memusatkan perhatian kepada Allah.
  2. Zikir tauhid, artinya mengingat keesaan. Zikir ini terdiri atas bacaan perlahan diiringi dengan pengaturan nafas, kalimat La ila>ha Illa> Allah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) memalui tubuh. Caranya, pertama bunyi La> digambar dari daerah pusar terus ke atas sampai ke ubun-ubun, kedua. Bunyi ila>ha  turun ke kanan dan berhenti di ujung bahu kanan, ketiga, kata berikutnya illa>  dimulai dan turun melewati bidang dada sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata terakhir Allah dihujamkan sekuat tenaga. Orang yang sedang berzikir membayangkan jantung itu berdenyutkan nama Allah, dan memusnahkan segala kotoran.

Sebagian ulama menyatakan bahwa zikir anggota tubuh (jawarih) adalah:

  1. Zikir mata dengan menangis
  2. Zikir telingan dengan mendengar yang baik-baik
  3. Zikir lidah dengan memuji Allah
  4. Zikir tangan dengan member sedekah
  5. Zikir badan dengan menunaikan kewajiban
  6. Zikir hati dengan takut dan mengharap
  7. Zikir roh dengan penyerahan diri kepada Allah

Terdapat 7 tingkatan zikir dalam Tarekat Naqsabandiyah:

  1. Mukasyafah, mula-mula zikir dengan menyebut Nama Allah dalam hati sebanyak 5000 kali sehari semalam. Setelah melaporkan perasaan selama berzikir, maka syaikh menaikkan zikirnya menjadi 6000 kali sehari semalam.
  2. Latha>if, setelah melaporkan perasaan yang dialami dalam berzikir itu, maka atas penilikan syaikh, dinaikkan zikirnya menjadi 7000. Dan demikianlah seterusnya menjadi 8000, 9000, 10.000 kali sehari semalam. Zikir tersebut dinamakan latha>if sebagai maqam kedua.

Maqam lathi>fah-lathi>fah juga terbagi menjadi 7 macam, yaitu:

  1. Lathi>fah al-Qalbi>, zikir sebanyak 5000 kali ditempatkan dibawah dada sebelah kiri dan kurang lebih dua jari dari rusuk.
  2. Lathi>fah al-Ru>h}, zikir sebanyak 1000 kali di bawah dada kanan, kurang lebih dua jari ke arah dada.
  3. Lathi>fah al-Sirr (1000 kali) dua jari diatas dada
  4. Lathi>fah al-Khofi (1000 kali) diatas dada kanan
  5. Lathi>fah al-Akhfa (1000 kali) di tengah-tengah dada
  6. Lathi>fah al-Nafsi al-Nathiqah (1000 kali) diatas kening
  7. Lathi>fah al-Kull al-Jasad (1000 kali) diseluruh tubuh
  8. 3.      Nafi Itsbat, 11.000 kali dengan membaca La ila>ha Illa> Allah
  9. 4.      Wuquf qalbi
  10. 5.      Ahadiah
  11. 6.      Ma’iah
  12. 7.      Tahlil

 

  1. F.  Silsilah guru-guru Naqsabandiyah mengikuti garis Nabi Muhammad SAW

Muhammad SAW

Salman Al-Farisi

Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Shiddiq

Abu Yazid Thaifur al-Bisthami (w.260/874)

 

Muhammad Baha’ al-Din Naqsyaband

Amir Sayyid Kulal al-Buknari (w.772/1371)

Azizan Ali al-Ramitani (w.705/1360)

Mahmud Anjir Gaghnawi (w.643/1245)

Abd al-Khaliq al-Gudjawani (w.617/1220)

Arif  al-Riwgari (w.657/1259)

Abu Ali al-Farmadni (w.477/1084)

Abu Ya’qub Yusuf al-Hamadani (w.535/1140)

        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Kesimpulan

Penulis menyimpulkan bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas social. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridai Allah, dengan jalan pengamalan syariat dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai makrifat. Apa yang dimaksud dengan makrifat dalam tema mereka adalah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tauhid, yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah.

Bibliografi

 

Fakhri Madjid, A History of Islamic Philosophy, (London: Columbia University Press, 1983)

K.A Nizami, Sayyed Hossein Nasr (Ed) Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi, Terj.( Bandung: Mizan, 1977)

Mulyati, Sri Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2004)

Nasution, Harun “Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam ” Dalam Orientasi Pengembangan Ilmu Tasawuf, (Jakarta:Depag,2003),hal.35

Sajaroh, Wiwi Siti “Tarekat Naqsabandiyah: Menjalani Hubungan Harmonis dengan Kalangan Penguasa’, ( Jakarta: Ensiklopedi Oxford, 1997)


[1] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media Group, 2004), 90.

[2] Ibid, 90, Lihat Juga, K.A Nizami, Sayyed Hossein Nasr (Ed) Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam: Manifestasi, Terj.( Bandung: Mizan, 1977), 22.

[3] Khawajagan adalah tarekat yang popular di timur tengah.

[4] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..91

[5] Harun Nasution, “Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam ” Dalam Orientasi Pengembangan Ilmu Tasawuf, (Jakarta:Depag,2003),hal.35

[6]  Ibid,.93.

[7] Harun Nasution, “Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam ” Dalam Orientasi Pengembangan Ilmu Tasawuf, (Jakarta:Depag,2003),hal.40

[8] Sayyed Hossein Nasr (Ed) Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam:. 25

[9] Madjid Fakhri, A History of Islamic Philosophy, (London: Columbia University Press, 1983).90

[10] Wiwi Siti Sajaroh, “Tarekat Naqsabandiyah: Menjalani Hubungan Harmonis dengan Kalangan Penguasa’, dalam John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford…, hlm.91.

[11] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..94

[12] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia.. 107

[13] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..98

[14] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..99

[15] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..100

[16] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia..101